KKMP Sampangan Tetap Jalan Meski Gedung Operasional Dikosongkan

redaksi
20 Agu 2026 08:38
4 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Aktivitas perdagangan di gedung Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sampangan, Kota Semarang, untuk sementara terhenti setelah bangunan tersebut dikosongkan. Meski demikian, pengurus memastikan organisasi dan keanggotaan koperasi tetap berjalan.

Kepastian itu muncul setelah pengurus KKMP Sampangan mengikuti audiensi bersama Asisten I Setda Kota Semarang Budi Prakosa dan sejumlah pihak terkait, Kamis (20/8/2026).

Ketua Pengurus KKMP Sampangan Kuncar Asrianto mengatakan, pemerintah kota meminta kepengurusan tetap berjalan. Aktivitas jual beli di gedung lama memang berhenti sementara, tetapi organisasi tidak dibubarkan.

“Pimpinan berharap KKMP Sampangan tetap beroperasional pengurusnya. Paling tidak tetap berjalan supaya tidak mati atau tutup,” kata Kuncar seusai audiensi di Kelurahan Sampangan.

Kuncar mengatakan pengurus kini mendapat tugas menjaga kekompakan organisasi sekaligus mempertahankan anggota koperasi. Ia menilai keberlangsungan kepengurusan penting agar KKMP Sampangan tidak kehilangan fondasi ketika tempat usaha baru nantinya tersedia.

Gedung operasional KKMP Sampangan mulai dikosongkan pada Rabu (19/8/2026) siang. Pengurus memindahkan sejumlah barang ke beberapa lokasi sementara.

Stok sembako, misalnya, dititipkan di Kelurahan Sampangan. Sementara tabung gas dipindahkan ke lokasi usaha milik anggota karena membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih sesuai.

“Kalau di sana sudah kosong. Sudah kosong dan kunci sudah kita serah terimakan ke TNI,” ujar Kuncar.

Menurut Kuncar, pengosongan bangunan berkaitan dengan rencana PT Agrinas yang akan mengisi komoditas atau barang di lokasi tersebut. Namun, pengurus belum memperoleh kepastian mengenai waktu PT Agrinas mulai menggunakan gedung.

“Alasannya dari PT Agrinas akan segera mengisi barang-barangnya di situ. Tapi kapan, belum ada info,” katanya.

Kuncar juga mengaku belum berkomunikasi langsung dengan pihak PT Agrinas mengenai rencana penggunaan bangunan tersebut.

Ia menjelaskan, pembangunan gedung KKMP Sampangan sebelumnya diawali pengurus dengan mengurus perizinan melalui lurah dan camat sebelum mendapatkan persetujuan dari pemerintah kota.

Pengosongan gedung membuat pengurus KKMP Sampangan terkejut. Kuncar mengatakan, perintah tersebut disampaikan secara lisan sehingga menimbulkan pertanyaan di kalangan pengurus.

Ia berharap ke depan setiap kebijakan yang berkaitan dengan koperasi dapat disampaikan secara tertulis. Sosialisasi kepada pengurus dan anggota juga dinilai penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Pengurus itu manusia. Mereka langsung down, kaget. Merasa kenapa kok kami diperlakukan seperti itu,” ungkap Kuncar.

Meski kecewa, pengurus memilih tidak memperkeruh situasi. Mereka akan tetap membuka komunikasi dengan pemerintah dan pihak terkait.

“Kami tetap berkomitmen untuk selalu berkomunikasi. Kami sudah diberi amanah untuk menjaga organisasi KKMP Sampangan dan menjaga keanggotaan di Sampangan,” ujarnya.

Di tengah persoalan tempat usaha, Kuncar mengungkapkan aktivitas KKMP Sampangan sebelumnya justru menunjukkan perkembangan positif.

Dalam tiga hingga empat bulan terakhir, omzet penjualan koperasi berada di kisaran Rp60 juta hingga Rp70 juta per bulan.

“Rata-rata omzet penjualan di KKMP Sampangan sudah menginjak Rp60 sampai Rp70 juta,” katanya.

Bahkan, omzet Agustus 2026 diperkirakan dapat mencapai Rp100 juta. Salah satu faktornya karena KKMP Sampangan dipercaya mendukung kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM).

Pelayanan koperasi juga tidak hanya menjangkau warga Kelurahan Sampangan. Sejumlah wilayah lain mengambil stok dari KKMP Sampangan, seperti Bendan Ngisor, Petompon, Lempongsari hingga Gisikdrono.

Kuncar mengatakan ketersediaan stok membuat KKMP Sampangan dipercaya mendukung kebutuhan kegiatan pangan murah di sejumlah wilayah.

Ia sebelumnya menargetkan omzet tahunan bisa melampaui Rp600 juta. Namun, persoalan gedung membuat target tersebut kini menjadi lebih sulit dicapai.

“Target saya nanti total selama setahun di atas Rp600 juta harapannya. Tapi dengan kondisi seperti ini saya masih pesimis,” ujarnya.

Pengurus KKMP Sampangan untuk sementara tetap menjalankan aktivitas organisasi meski tidak lagi berjualan di gedung lama.

Kuncar mengatakan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang akan membantu mencari tempat yang dapat digunakan sebagai lokasi operasional baru.

“Dari Dinkop nanti akan coba carikan solusi. Salah satunya yang urgen adalah tempat untuk operasional,” katanya.

Pengurus berharap lokasi baru tersebut dapat menjadi tempat usaha yang representatif. Dengan begitu, pelayanan kepada anggota dan masyarakat bisa kembali berjalan normal.

Menurut Kuncar, keberadaan tempat usaha penting karena KKMP merupakan koperasi yang dibangun berdasarkan kepentingan anggota.

“Namanya koperasi itu kan dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Semarang Budi Prakosa menegaskan tidak ada keputusan untuk membubarkan kepengurusan KKMP Sampangan.

“Lho, enggak. Siapa sing bubarke?” kata Budi saat dikonfirmasi mengenai isu pembubaran pengurus.

Budi menjelaskan, audiensi tersebut baru menjadi tahap awal untuk mengumpulkan informasi dari seluruh pihak. Pemerintah kota masih perlu melakukan komunikasi dan penjajakan sebelum menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi nanti kita rembuk. Kita pastikan dulu informasi ini karena semua harus kita komunikasikan dengan seluruh pihak,” ujarnya.

Ia juga memastikan pengurus KKMP Sampangan masih menjalankan tugasnya. Sampai saat ini belum ada kebijakan untuk merombak struktur kepengurusan.

“Sepertinya masih pengurus yang ini. Belum ada kebijakan perombakan,” kata Budi.

Terkait pengelolaan gedung dan hubungan operasional KKMP Sampangan dengan PT Agrinas, Budi mengatakan pemerintah masih menunggu informasi dan kebijakan yang lebih pasti.

“Belum ada, kita masih menunggu informasi yang pasti terkait dengan kebijakan ini,” pungkasnya. (**)