UMKM Kota Semarang Bidik Pasar Internasional

redaksi
27 Agu 2026 15:40
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang menggelar puncak rangkaian program Semarang Rise 2026 di Hotel Gumaya, Semarang, Rabu, 26 Agustus 2026.

Tidak hanya menampilkan produk unggulan, para pelaku usaha juga dipertemukan langsung dengan calon pembeli dari sejumlah negara untuk membuka peluang transaksi ekspor.

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan kesepakatan atau memorandum of understanding antara pelaku UMKM Kota Semarang dan calon buyer dari luar negeri.

Buyer yang hadir berasal dari sejumlah pasar potensial, mulai dari Mesir, kawasan Timur Tengah hingga India.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang Margaritha Mita Dewi Sopa mengatakan Semarang Rise 2026 menjadi salah satu langkah Pemkot Semarang untuk mendorong UMKM naik kelas dan memiliki akses lebih luas ke pasar ekspor.

“Ini merupakan rangkaian puncak dari program Semarang Rise 2026 dalam rangka mendukung program Waras Ekonomi Kota Semarang. Tujuannya agar teman-teman UMKM bisa naik kelas dan berhasil menembus pasar ekspor global,” ujar Mita.

Menurut Mita, program tersebut tidak berhenti pada kegiatan pameran atau promosi produk. Para peserta terlebih dahulu melewati proses kurasi dan inkubasi untuk memperkuat kesiapan mereka menghadapi pasar internasional.

Semarang Rise 2026 telah berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026. Rangkaian kegiatan mulai dari sosialisasi, kurasi, pengumuman peserta, penguatan kolaborasi pentahelix hingga inkubasi intensif.

Sebanyak 100 UMKM terpilih mengikuti program tersebut. Mereka terdiri atas 50 pelaku UMKM sektor kuliner dan 50 UMKM sektor kerajinan atau craft.

Pada acara puncak, para pelaku usaha mendapat kesempatan mempresentasikan produk, kapasitas produksi hingga kesiapan memenuhi kebutuhan pasar ekspor di hadapan buyer mancanegara.

Langkah ini menjadi penting karena peluang ekspor tidak hanya bergantung pada kualitas produk. UMKM juga harus mampu menjamin kapasitas produksi, konsistensi mutu dan keberlanjutan pasokan.

“Melalui program ini kami ingin UMKM tidak hanya memiliki produk yang bagus, tetapi juga siap masuk ke pasar yang lebih luas,” kata Mita.

Pemkot Semarang sebelumnya mencatat 11 UMKM berhasil menembus pasar internasional sepanjang 2025. Sejumlah produk lokal yang dikirim ke luar negeri antara lain rengginang, kue jahe hingga minuman rempah jamu jun.

Kehadiran buyer baru dalam Semarang Rise 2026 diharapkan membuka peluang transaksi ekspor bagi lebih banyak produk unggulan Kota Semarang.

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan manfaat fasilitasi pemerintah adalah Hartati Tri Arini, pemilik La Romzi Etnik.Usaha yang berlokasi di Jalan Payung Asri Raya, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, itu memproduksi berbagai produk fesyen berbasis eco print.

Produk buatan La Romzi Etnik tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Sejumlah produknya telah menjangkau Malaysia, Hong Kong, Sydney hingga Inggris.

“Eco print kami sering dibawa ke luar negeri. Kami juga sering difasilitasi Dinas Koperasi Kota Semarang untuk mengikuti pameran, bahkan sampai ke luar negeri,” kata Hartati.

Menurut dia, pasar internasional menjadi salah satu peluang besar bagi produk kerajinan yang memiliki karakter dan keunikan.

La Romzi Etnik memproduksi beragam produk, mulai dari pakaian, kain, syal, tas, topi hingga pouch. Syal menjadi salah satu produk yang paling diminati karena dapat digunakan dalam berbagai gaya.

“Syal menjadi salah satu best seller kami. Bahkan satu syal bisa digunakan dalam delapan model,” ujarnya.

Keunikan eco print menjadi kekuatan utama produknya. Setiap motif daun dan tanaman menghasilkan karakter berbeda sehingga tidak ada produk yang benar-benar sama.

Kondisi tersebut membuat setiap produk memiliki nilai eksklusif bagi konsumen. Hartati juga mengembangkan konsep produksi berkelanjutan.

Sisa tanaman yang digunakan dalam proses produksi tidak dibuang begitu saja, tetapi diolah kembali menjadi pupuk.

“Produk kami sustainable dan berusaha tidak menghasilkan limbah. Bahkan sisa tanaman kami olah menjadi pupuk,” katanya.

Produk eco print La Romzi Etnik dijual dengan harga mulai sekitar Rp95 ribu hingga Rp1,2 juta untuk produk pakaian. (**)