Kisah Ayu dan Keyla, Siswa Semarang yang Bisa Lanjut Sekolah Berkat Program Sekolah Kemitraan

Alan Henry
8 Jun 2026 11:11
Daerah 0
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Program Sekolah Kemitraan yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi harapan baru bagi ribuan siswa dari keluarga kurang mampu untuk tetap melanjutkan pendidikan. Melalui program tersebut, para siswa dapat bersekolah di SMA maupun SMK swasta tanpa dibebani biaya pendidikan, mulai dari uang gedung, SPP hingga kebutuhan pendukung lainnya.

Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Ayu Prameswari, siswi SMA Mardisiswa Banyumanik, Kota Semarang. Sebelum mendapatkan kesempatan melalui Sekolah Kemitraan, Ayu mengaku sempat khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Ayahnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara biaya masuk sekolah menengah atas dinilai cukup memberatkan bagi keluarganya. Kondisi itu membuat Ayu sempat membayangkan masa depannya akan terhenti karena tidak mampu membayar biaya pendidikan.

“Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, saya sempat takut tidak bisa melanjutkan sekolah. Biaya masuk SMA cukup besar dan sulit untuk dipenuhi,” ujarnya.

Harapan tersebut berubah setelah dirinya diterima melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kini Ayu dapat belajar dengan tenang tanpa harus memikirkan biaya sekolah yang sebelumnya menjadi beban keluarga.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya membantu dirinya, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi orang tuanya yang tidak lagi khawatir mengenai biaya pendidikan.

Kisah serupa dialami Keyla Sabrina, siswi SMA Mardisiswa lainnya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya juga menjadi tantangan besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

“Kalau tidak ada Sekolah Kemitraan, mungkin saya harus berhenti sekolah sementara. Program ini memberikan kesempatan untuk tetap mengejar cita-cita,” katanya.

Berkat bantuan tersebut, Keyla kini dapat fokus belajar dan merencanakan masa depan yang lebih baik, termasuk keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kepala SMA Mardisiswa Banyumanik, Marwulandari Sayekti, menjelaskan bahwa dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memungkinkan sekolah menggratiskan berbagai kebutuhan pendidikan bagi siswa penerima manfaat.

Menurutnya, program tersebut mencakup pembebasan biaya SPP, uang gedung, hingga bantuan buku dan kebutuhan pendidikan lainnya. Hal itu dinilai sangat membantu siswa yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan.

“Program ini benar-benar memberikan kesempatan bagi anak-anak yang kesulitan secara ekonomi untuk tetap bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.

Manfaat Sekolah Kemitraan juga dirasakan siswa di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Vanesha Angelina, putri seorang buruh, mengaku keluarganya sangat terbantu karena tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah yang cukup besar.

Sementara itu, Maulida Dewi Novi Yanti menyampaikan rasa syukur karena dapat melanjutkan pendidikan secara gratis melalui program tersebut.

“Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program ini sangat membantu sehingga saya bisa terus bersekolah dan mengejar cita-cita,” ungkapnya.

Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah, mengatakan sejumlah siswa yang kini menjadi peserta Sekolah Kemitraan sebelumnya berada dalam kondisi rentan putus sekolah. Namun, berkat adanya program tersebut, mereka dapat kembali melanjutkan pendidikan dengan baik.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Program Sekolah Kemitraan menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu sekaligus menekan angka putus sekolah.

“Minimal setiap tahun ada 5.000 anak dari keluarga miskin ekstrem yang bisa terbantu dan mendapatkan akses pendidikan yang layak,” katanya.

Sebagai informasi, pada tahun 2026 terdapat 139 SMA dan SMK swasta yang tergabung dalam Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui program tersebut, sebanyak 5.004 siswa dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan secara gratis.

Program ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jawa Tengah, khususnya bagi anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera. ***