
AKSARAKINI.COM – Pemerintah Kota Semarang resmi meluncurkan aplikasi Pelayanan Farmasi Terintegrasi Kota Semarang (Pharma City) sebagai solusi untuk memudahkan masyarakat mencari obat yang tersedia di berbagai fasilitas kesehatan.
Aplikasi yang diperkenalkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang pada Rabu (15/7/2026) itu memungkinkan masyarakat mengetahui ketersediaan obat secara real time di apotek, puskesmas, klinik, hingga rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam, mengatakan lahirnya Pharma City dilatarbelakangi masih banyaknya masyarakat yang kesulitan memperoleh obat sesuai resep dokter karena stok di fasilitas kesehatan tertentu kosong.
“Selama ini masyarakat sering kecewa karena setelah memeriksakan diri ke dokter, obat yang diresepkan ternyata tidak tersedia. Dengan Pharma City, masyarakat bisa langsung mengetahui lokasi obat yang dibutuhkan tanpa harus mencarinya dari satu tempat ke tempat lain,” ujar Hakam.
Saat ini, sebanyak 446 apotek di Kota Semarang telah terhubung dengan sistem Pharma City. Selain apotek, aplikasi tersebut juga mengintegrasikan layanan farmasi milik puskesmas, klinik, dan rumah sakit sehingga informasi yang diterima masyarakat menjadi lebih lengkap.
Menurut Hakam, tantangan terbesar dalam pengembangan sistem tersebut adalah menjaga konsistensi pembaruan data stok obat. Seluruh fasilitas kesehatan diminta rutin memperbarui data agar informasi yang ditampilkan tetap akurat.
Tak hanya memberikan kemudahan bagi masyarakat, Pharma City juga menjadi basis data bagi Dinas Kesehatan untuk memantau kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit di setiap wilayah.
Informasi tersebut akan membantu pemerintah menyusun distribusi obat secara lebih tepat sasaran sekaligus mengurangi risiko penumpukan stok yang jarang digunakan.
“Bila kami mengetahui penyakit yang banyak muncul di suatu wilayah, maka kebutuhan obatnya juga bisa diprediksi. Dengan begitu, penyediaan obat menjadi lebih efektif,” jelasnya.
Hakam menyebut pihaknya belum menemukan daerah lain di Indonesia yang menerapkan sistem serupa. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, konsep layanan farmasi terintegrasi tersebut baru ditemukan di Kota Hainan, Tiongkok.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, menilai Pharma City menjadi terobosan yang akan mengubah pola layanan informasi farmasi di Kota Semarang. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat tidak lagi harus mendatangi sejumlah apotek untuk memastikan ketersediaan obat.
Ia juga menilai sistem tersebut memberi nilai tambah bagi pelaku usaha farmasi karena dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi penyediaan stok sesuai kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
Menurut Handi, inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kota Semarang telah mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan dan berpotensi menjadi percontohan nasional.
“Semarang menjadi daerah pertama yang mengembangkan sistem seperti ini. Harapannya, Pharma City dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga pelayanan farmasi di Indonesia menjadi lebih mudah, cepat, dan terintegrasi,” pungkasnya. (**)