Kasus Keracunan MBG SMKN 6 Semarang, Dinkes Temukan 16 SOP Tak Sesuai

redaksi
3 Agu 2026 22:31
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menemukan 16 dugaan ketidaksesuaian standar operasional prosedur (SOP) dalam investigasi awal kasus dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan guru SMKN 6 Semarang.

Meski telah menemukan sejumlah dugaan pelanggaran prosedur, Dinkes Kota Semarang belum dapat memastikan penyebab utama kejadian tersebut. Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan mikrobiologi terhadap sampel makanan yang saat ini sedang dianalisis di laboratorium.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan hasil pasti penyebab kejadian belum dapat disimpulkan karena pemeriksaan mikrobiologi masih berlangsung. Sampel makanan harus melalui kultur bakteri yang membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga 14 hari.

“Belum bisa dipastikan karena sampelnya harus dilakukan kultur bakteri terlebih dahulu. Proses ini membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai 14 hari agar diketahui apakah ada bakteri penyebab keracunan,” ujar Hakam.

Dinkes telah mengambil sejumlah sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Sampel yang diperiksa meliputi ayam rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh yang menjadi bagian dari menu MBG.

Selain pemeriksaan laboratorium, tim epidemiologi juga melakukan wawancara terhadap ratusan korban untuk mengidentifikasi makanan yang paling banyak dikeluhkan. Dari hasil asesmen sementara, menu ayam rendang menjadi salah satu makanan yang paling banyak disebut siswa, disusul telur puyuh dan daun singkong.

“Temuan sementara berdasarkan anamnesis memang mengarah ke beberapa menu. Namun kami belum bisa menyimpulkan karena semuanya masih menunggu hasil laboratorium,” katanya.

Hakam mengungkapkan investigasi juga menemukan dugaan ketidaksesuaian dalam penerapan SOP penyelenggaraan MBG. Berdasarkan evaluasi awal, dari total 19 SOP yang harus dipenuhi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hanya tiga yang dinilai telah dijalankan sesuai ketentuan.

“Tiga SOP yang terpenuhi berkaitan dengan distribusi, pemberian makanan kepada siswa, dan bahan baku. Selebihnya masih ditemukan sejumlah ketidaksesuaian yang sedang kami dalami,” jelasnya.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah proses memasak makanan yang diduga dilakukan terlalu dini. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG sudah dimasak sekitar pukul 21.00 WIB pada malam sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Menurut Hakam, kondisi tersebut tidak sesuai dengan prinsip keamanan pangan. Idealnya makanan dimasak beberapa jam sebelum didistribusikan agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.

“Kalau makanan dibagikan pagi hari, seharusnya mulai dimasak sekitar pukul empat atau lima pagi. Setelah matang, makanan sebaiknya segera didistribusikan dan tidak lebih dari dua jam sebelum dikonsumsi,” tegasnya.

Hingga saat ini, enam siswa masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, yakni RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu. Seluruh pasien dilaporkan dalam kondisi membaik.

“Alhamdulillah semuanya menunjukkan perbaikan. Mayoritas mengalami gejala mual, muntah, dan diare. Ada satu pasien yang sempat dirujuk karena kondisinya lemas sehingga membutuhkan pemeriksaan elektrolit lebih lanjut,” katanya.

Dinkes juga melakukan pemeriksaan langsung ke dapur penyedia MBG, termasuk meninjau rekaman CCTV untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan telah sesuai prosedur. Pemeriksaan mencakup penggunaan alat pelindung diri oleh petugas, proses penyimpanan makanan, hingga sanitasi dapur.

Selain itu, hasil investigasi nantinya akan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional sebagai bahan evaluasi terhadap penyelenggara MBG.

“Kami akan menyampaikan hasil lengkap investigasi, termasuk temuan pelanggaran SOP dan hasil pemeriksaan mikrobiologi. Keputusan tindak lanjut terhadap penyelenggara menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional,” pungkas Hakam.(**)