Proyek Geothermal Gunung Ungaran Disorot, Farchan Khawatir Pasokan Air Semarang Terganggu

redaksi
4 Sep 2026 23:42
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM — Rencana eksplorasi proyek energi panas bumi (geothermal) di Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, menuai perhatian dari sejumlah kalangan. Penolakan warga sekitar terhadap rencana tersebut turut menjadi sorotan anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah dari Partai Solidaritas Indonedia (PSI), Muhammad Farchan.

Farchan menilai Gunung Ungaran bukan sekadar kawasan untuk pembangunan proyek, tetapi merupakan bagian dari ekosistem yang selama ini menopang kehidupan masyarakat sekitar.

Menurutnya, warga memanfaatkan sumber mata air pegunungan untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna serta memiliki potensi wisata dan situs budaya Candi Gedong Songo.

“Gunung Ungaran bukan lagi sebuah ruang kosong, tetapi suatu kesatuan ekologis. Ada sumber mata air, pertanian, flora dan fauna, hingga situs cagar budaya,” ujar Farchan, Jumat (4/9/2026).

Ia juga menyoroti rencana pengeboran titik panas dengan kedalaman sekitar 1.500 hingga 2.000 meter. Menurutnya, rencana tersebut perlu dikaji secara menyeluruh karena berada di kawasan yang memiliki nilai ekologis dan budaya.

Farchan meminta pemerintah tidak hanya melihat proyek geothermal dari sisi pembangunan energi, tetapi juga memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan dalam jangka panjang.

“Seharusnya proyek ini bisa ditinjau ulang. Dampaknya harus dilihat secara menyeluruh, mulai dari bentang alam, pembukaan akses jalan, lahan hingga aktivitas pariwisata,” katanya.

Khawatir Berdampak pada Air Baku Semarang

Farchan yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang juga mengingatkan potensi dampak terhadap ketersediaan air baku.

Menurut dia, Gunung Ungaran merupakan salah satu kawasan yang berkaitan dengan sumber air bagi Kota Semarang. Karena itu, perubahan kondisi lingkungan di kawasan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian.

“Apakah secara teknis geothermal nantinya berpengaruh terhadap pasokan air di Kota Semarang dan ekologi wilayah penyangga seperti Kendal, ini harus dikaji,” ujarnya.

Ia menyebut Kota Semarang memiliki sejumlah sumber air, termasuk dari kawasan pegunungan Ungaran, IPA Kudu dari Klambu, Grobogan, serta air tanah.

Farchan mengakui proyek geothermal di daerah lain, seperti Dieng, dapat menjadi pembanding. Namun, menurutnya, karakter Gunung Ungaran berbeda karena memiliki kepadatan penduduk, potensi pariwisata, sumber air baku, serta keanekaragaman hayati yang perlu dipertimbangkan.

“Bukan soal proyek ini salah atau tidak. Yang penting, kajiannya harus matang dan aspirasi warga serta elemen masyarakat harus didengar,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah pusat melakukan kajian lingkungan secara komprehensif sebelum mengambil keputusan terkait kelanjutan proyek geothermal di Gunung Ungaran.(**)