DPRD Soroti Tingginya Kasus HIV di Kota Semarang, Ditemukan Base Camp Komunitas Gay

redaksi
18 Jun 2026 21:48
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang menyoroti tingginya temuan kasus HIV. Bahkan ada laporan dari warga jika salah satu tempat indekos di Pleburan, menjadi base camp komunitas gay tinggal.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat, hingga Mei 2026 sebanyak 240 kasus baru HIV ditemukan melalui layanan skrining dan deteksi dini yang diperluas di berbagai fasilitas kesehatan.

Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Siti Roika, menilai peningkatan kasus tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat langkah pencegahan, terutama di kalangan remaja, mahasiswa, dan kelompok usia produktif.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, sebagian kasus berasal dari warga luar daerah yang tinggal di Semarang untuk bekerja maupun kuliah. Karena itu pendekatan edukasi dan pembinaan harus diperkuat agar perilaku berisiko dapat dicegah sejak awal,” ujar Roika.

Data Dinkes Kota Semarang menunjukkan kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) sebesar 44 persen.

Disusul pasien Tuberkulosis (TBC) sebanyak 12 persen, pasangan berisiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen.

Roika mengatakan upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan. Menurutnya, sejumlah organisasi perangkat daerah juga perlu terlibat aktif dalam pembinaan keluarga dan remaja.

“Basis pencegahan sebenarnya ada di keluarga. Karena itu program pembinaan remaja, edukasi kesehatan reproduksi, dan penguatan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan oleh berbagai instansi terkait,” katanya.

Politikus yang akrab disapa Ika itu mengaku menerima laporan warga terkait dugaan aktivitas berisiko di salah satu rumah kos di kawasan Peleburan.

Laporan tersebut, menurutnya, perlu diverifikasi lebih lanjut oleh instansi terkait agar tidak menimbulkan stigma sekaligus memastikan lingkungan tetap kondusif.

“Kami menerima laporan dari masyarakat dan tentu akan kami komunikasikan dengan pihak terkait. Yang terpenting adalah bagaimana langkah mitigasi dilakukan secara tepat dan berbasis data,” ujarnya.

Ia menegaskan penanganan HIV tidak cukup hanya melalui pengobatan, tetapi juga membutuhkan penguatan edukasi, pengawasan lingkungan, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup sehat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, menjelaskan peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu menunjukkan lonjakan penularan baru, melainkan juga dipengaruhi oleh semakin luasnya layanan skrining dan deteksi dini yang dilakukan pemerintah.

“Kenaikan temuan kasus terjadi karena kami semakin masif melakukan skrining HIV di fasilitas kesehatan maupun pada kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko. Dengan deteksi dini, pasien bisa segera mendapatkan pendampingan dan pengobatan,” jelas Hakam.

Menurutnya, strategi skrining menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV karena membantu menemukan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi.

Dinkes Kota Semarang terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV secara sukarela dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. (**)