Jepang Depopulasi, Jumlah Warga Berusia 100 Tahun Tembus 107 Ribu

redaksi
19 Sep 2026 09:14
Berita 0
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Jepang tengah menghadapi paradoks demografi. Di tengah penurunan jumlah penduduk secara keseluruhan, jumlah warga yang berusia 100 tahun ke atas justru terus bertambah.

Kementerian Kesehatan Jepang mencatat sebanyak 107.677 orang berusia 100 tahun ke atas. Jumlah tersebut meningkat hampir 8.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan angka tersebut, Jepang menjadi negara dengan jumlah penduduk berusia 100 tahun ke atas terbanyak di dunia.

Data pemerintah menunjukkan jumlah warga berusia 100 tahun ke atas terus meningkat setiap tahun sejak pendataan dimulai 56 tahun lalu.

88 Persen Warga Berusia 100 Tahun adalah Perempuan

Dari 107.677 warga berusia 100 tahun ke atas, sekitar 88 persen atau 94.298 orang merupakan perempuan.

Fuyo Kishimoto, perempuan berusia 114 tahun asal Kyoto, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. Sementara Hikaru Kato, pria berusia 112 tahun asal Kumamoto, tercatat sebagai pria tertua.

Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno mengatakan peningkatan jumlah warga berusia sangat lanjut menunjukkan banyak masyarakat yang tetap aktif dan sehat hingga usia panjang.

“Saya sangat senang melihat begitu banyak orang tetap aktif dan sehat dalam waktu yang begitu lama,” ujar Kenichiro Ueno.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kemajuan di bidang kedokteran dan teknologi.

Dari 153 Orang Menjadi 107.677 Orang

Jumlah warga berusia 100 tahun ke atas meningkat tajam sejak pemerintah Jepang pertama kali melakukan survei pada 1963.

Saat itu, hanya tercatat 153 orang yang berusia 100 tahun ke atas.

Jumlah tersebut kemudian melampaui 1.000 orang pada 1981 dan menembus 10.000 orang pada 1998.

Data terbaru tersebut dirilis menjelang hari libur nasional “Penghormatan kepada Lansia”. Dalam momentum tersebut, pemerintah Jepang mengirimkan surat pribadi dan cangkir sake tradisional kepada warga yang mencapai usia 100 tahun.

Populasi Jepang Justru Menurun

Pertambahan jumlah warga berusia 100 tahun ke atas terjadi ketika populasi Jepang secara keseluruhan terus menyusut.

Menurut Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial, populasi Jepang yang saat ini sekitar 123 juta jiwa diproyeksikan turun menjadi 87 juta jiwa pada 2070.

Jumlah tersebut sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan populasi puncak Jepang yang mencapai 128 juta jiwa pada 2008.

Pada saat yang sama, tingkat kesuburan Jepang turun ke rekor terendah 1,14 pada tahun lalu. Angka tersebut berada jauh di bawah tingkat 2,1 yang dibutuhkan agar populasi dapat melakukan regenerasi secara alami.

Penduduk berusia 65 tahun ke atas saat ini mencakup sekitar 30 persen dari total populasi Jepang. Proporsinya diperkirakan mendekati 40 persen pada 2070.

Pada 2025, Jepang juga mencatat penurunan populasi di 45 dari 47 prefektur, dengan laju penurunan yang semakin cepat.

Perdana Menteri Sanae Takichi menyebut persoalan demografi tersebut sebagai “darurat senyap”.

Berbagai subsidi dan program pemerintah untuk mendorong masyarakat memiliki lebih banyak anak sejauh ini belum berhasil meningkatkan angka kelahiran.

Sejumlah faktor disebut berkontribusi terhadap kondisi tersebut, antara lain penurunan angka pernikahan, meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, serta naiknya biaya membesarkan anak.(**)