19 Rumah Warga Tinjomoyo Retak, Diduga Terdampak Proyek Gombel dan Pematangan Lahan Pakuwon

Alan Henry
11 Jun 2026 20:14
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Sebanyak 19 rumah milik warga di RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, dilaporkan mengalami keretakan yang semakin parah dalam beberapa bulan terakhir. Kerusakan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas dua proyek besar yang berlangsung bersamaan di kawasan Gombel, yakni perbaikan Jalan Gombel Lama dan pematangan lahan untuk rencana pembangunan kawasan komersial Pakuwon.

Warga mulai merasa khawatir karena retakan pada bangunan terus bertambah dan melebar. Selain itu, aktivitas proyek juga menimbulkan debu serta kebisingan yang dirasakan mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.

Salah seorang warga, Parjono (70), mengaku rumahnya mengalami kerusakan cukup serius. Retakan terlihat di sejumlah bagian bangunan, mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga area belakang rumah. Bahkan, beberapa bagian lantai rumah tampak menggelembung.

Menurut Parjono, rumahnya memang pernah mengalami retakan kecil karena berada di kawasan yang memiliki potensi pergerakan tanah. Namun kondisi tersebut semakin memburuk sejak proyek-proyek besar mulai dikerjakan di sekitar permukiman warga.

“Dulu hanya retakan kecil, sekarang semakin lebar dan jumlahnya bertambah. Ada bagian tembok yang mulai rapuh sehingga membuat kami khawatir,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Ia juga mengaku kerap merasakan getaran, terutama saat musim hujan dan aktivitas alat berat masih berlangsung hingga malam hari. Kondisi itu membuatnya rutin memeriksa rumah untuk memastikan tidak ada kerusakan baru yang muncul.

Tidak hanya rumah miliknya, bangunan milik anaknya yang berada di sebelah rumah juga mengalami keretakan serupa pada beberapa bagian.

Ketua RT 06, Tugimin, mengatakan dampak proyek tidak hanya dirasakan dalam bentuk kerusakan bangunan. Warga juga harus menghadapi debu yang cukup pekat serta penurunan aktivitas ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil setelah akses Jalan Gombel Lama ditutup sementara.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan lingkungan setempat, terdapat 19 rumah dari 16 kepala keluarga yang mengalami kerusakan akibat kondisi tersebut. Temuan itu telah dilaporkan kepada pihak Kelurahan Tinjomoyo.

“Sebelumnya retakan hanya sangat kecil, sekarang ada yang lebarnya sampai beberapa sentimeter. Bahkan ada retakan yang cukup besar hingga bisa dimasuki jari tangan,” kata Tugimin.

Ia menambahkan, pihak pelaksana proyek telah melakukan pendataan awal terhadap rumah-rumah warga yang terdampak, termasuk mendokumentasikan kondisi bangunan melalui foto dan sketsa.

Warga berharap ada tindak lanjut berupa perbaikan maupun kompensasi atas kerusakan yang terjadi, mengingat dampak yang dirasakan tidak hanya menyangkut kondisi bangunan tetapi juga kenyamanan lingkungan.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menjelaskan bahwa saat ini memang terdapat dua pekerjaan fisik yang berlangsung di kawasan Gombel Lama secara bersamaan.

Pekerjaan pertama adalah perbaikan Jalan Gombel Lama yang menjadi kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta. Sementara pekerjaan kedua berupa pematangan lahan di sisi barat kawasan yang disiapkan untuk pengembangan area komersial oleh pihak swasta.

Ferry menegaskan, kegiatan yang berlangsung di lokasi saat ini masih sebatas penguatan stabilitas tanah dan belum memasuki tahap pembangunan gedung.

Menurutnya, pelaksanaan kedua pekerjaan tersebut dilakukan secara terintegrasi agar sistem drainase jalan nasional dapat diselaraskan dengan konstruksi pengamanan lereng yang sedang dikerjakan.

Sebagai langkah mitigasi, kawasan Gombel telah dipantau menggunakan sejumlah alat pemantau pergerakan tanah, seperti inclinometer dan piezometer yang dipasang di 20 titik sejak dua tahun terakhir.

“Pemantauan kondisi tanah terus dilakukan secara berkala sehingga potensi pergerakan tanah dapat diketahui lebih dini dan langkah antisipasi bisa segera dilakukan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pekerjaan yang berlangsung saat ini merupakan perbaikan jalan dan pematangan lahan, bukan pembangunan pusat perbelanjaan sebagaimana yang banyak dipersepsikan masyarakat. ***