
AKSARAKINI.COM – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkenalkan tradisi Dugderan kepada para kafilah dan tamu MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 melalui Nostalgia Dugderan di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman, Jumat (18/9).
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para tamu dari berbagai daerah untuk mengenal kehidupan budaya Kota Semarang di luar rangkaian kompetisi MTQ.Bagi masyarakat Kota Semarang, Dugderan lekat dengan suasana menjelang Ramadan.
Bunyi bedug dan meriam yang menjadi asal nama Dugderan, pasar rakyat, kuliner, kesenian, serta keramaian warga di kawasan Kauman dan Pasar Johar menjadi bagian dari ingatan masyarakat terhadap tradisi tersebut.
Suasana itu kembali dikenalkan kepada para kafilah melalui rangkaian Nostalgia Dugderan yang berlangsung 13–18 September 2026. Puncaknya digelar melalui Kirab Nostalgia Dugderan pada Jumat sore.
Agustina mengatakan, Nostalgia Dugderan dihadirkan agar para kafilah dan tamu MTQ memiliki kesempatan mengenal tradisi yang dekat dengan kehidupan warga Kota Semarang.
“Dugderan ini adalah salah satu tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan warga Kota Semarang. Kami ingin para kafilah dan tamu MTQ yang datang dari seluruh Indonesia merasakan kehangatan dan mengenal cerita tradisi di kota ini,” ujar Agustina.
Pelaksanaan Nostalgia Dugderan pada September juga memiliki alasan tersendiri. Kegiatan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan Dugderan yang selama ini berlangsung menjelang Ramadan, tetapi menghadirkan kembali suasana dan cerita di balik tradisi tersebut bagi para tamu yang sedang berada di Kota Semarang.
“Supaya para kafilah tidak hanya mengikuti rangkaian kompetisi, tetapi juga membawa pulang kenangan indah tentang cerita, tradisi, dan kehidupan masyarakat Kota Semarang,” katanya.
Rangkaian Nostalgia Dugderan diisi Bazaar Expo Kauman Kampung Qur’an yang berlangsung sejak 13 September. Masyarakat dan para tamu dapat menikmati pertunjukan seni sekaligus berbagai kuliner dan produk masyarakat, mulai dari kue putu, donat, martabak, gerabah hingga kapal othok-othok.
Puncaknya berlangsung melalui Kirab Nostalgia Dugderan yang melibatkan 773 peserta dari 20 kelompok. Pelajar, kelompok keagamaan, komunitas masyarakat, serta kelompok seni dan budaya berjalan dalam satu rangkaian kirab.
Sejumlah penampilan hadir dalam kirab, antara lain Drumband SD Islam Sultan Agung, Pasukan Merah Putih pelajar SMPN 38, Pasukan Bregodo, penari Dugder, Denok-Kenang, Manten Kaji, Ngesti Pandowo, Rebana Pondok Tahfidz Al-Qur’an Masjid Kauman, hingga kelompok kesenian daerah.
Agustina turut menjadi bagian dari peragaan tradisi sebagai KRMAT Purbaningrum, didampingi unsur ulama Masjid Agung Kauman serta perwakilan budaya Arab, Jawa dan Tionghoa atau ARWANA.
Bagi Agustina, pertemuan berbagai unsur dalam kirab tersebut juga menggambarkan perjalanan budaya Kota Semarang. Jejak Jawa, Arab dan Tionghoa bertemu dan berkembang dalam kehidupan masyarakat kota. Salah satu simbol yang dikenal dalam tradisi Dugderan adalah Warak Ngendog.
“Tradisi ini menunjukkan bahwa Kota Semarang tumbuh dari keberagaman yang saling menghormati. Semangat kebersamaan dan keterbukaan inilah yang kami persembahkan untuk menyambut seluruh tamu MTQ Nasional,” jelasnya.
Kirab dimulai dari halaman Alun-Alun Masjid Agung Kauman, melintasi Jalan Kolonel Sugiono dan Jalan Imam Bonjol, berputar di kawasan titik nol Kota Lama Semarang, kemudian kembali ke kawasan Kauman.
Setelah kirab, masyarakat dan para kafilah menikmati Ganjel Rel yang dibagikan dalam rangkaian acara. Penampilan musik religi turut menghidupkan suasana kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman.
Bagi para kafilah, rangkaian tersebut menjadi pengalaman lain selama berada di Kota Semarang. Setelah mengikuti agenda MTQ, mereka dapat melihat langsung tradisi, kesenian, kuliner, serta keberagaman masyarakat yang tumbuh dalam kehidupan kota.
Agustina berharap pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang dibawa pulang para kafilah setelah MTQ Nasional XXXI selesai.
“Sajian kue Ganjel Rel dan seluruh rangkaian acara sore ini kami persembahkan untuk seluruh kafilah. Semoga kebersamaan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, dan membawa cerita hangat tentang Kota Semarang pulang ke daerah masing-masing,” tutup Agustina.(**)