Ahmad Luthfi Peluk Korban Banjir Mangkang Kulon, Janji Penanganan Menyeluruh

Alan Henry
20 Mei 2026 08:56
Daerah 0
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Duka mendalam masih dirasakan Muhammad Zaenuddin (36), warga Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Beberapa hari lalu, ia kehilangan ibundanya, Maryam (70), yang meninggal dunia setelah terseret arus deras Sungai Plumbon.

Saat meninjau penanganan pascabanjir di kawasan tersebut pada 19 Mei 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan belasungkawa kepada Zaenuddin. Gubernur memeluknya erat sebagai bentuk empati atas musibah yang dialami keluarga tersebut.

Namun, kenangan atas tragedi yang merenggut nyawa ibunya masih membekas kuat di benak Zaenuddin. Peristiwa itu terjadi pada Jumat malam, 15 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, ketika hujan deras membuat debit air Sungai Plumbon meningkat tajam. Sebagai warga yang tinggal tepat di bantaran sungai, Zaenuddin sebenarnya sudah bersiaga meski sedang bekerja.

Akan tetapi, bencana datang lebih cepat dari dugaan. Tanggul sungai tiba-tiba jebol dan air setinggi sekitar 120 sentimeter langsung menerjang permukiman dengan arus deras. Saat kejadian, Maryam berada di depan rumah.

“Ibu saya hanyut. Lah cucunya niat mau menolong, ikut hanyut sekalian,” ujar Zaenuddin dengan suara tertahan.

Cucu Maryam berhasil menyelamatkan diri dari derasnya arus, tetapi Maryam hilang terbawa banjir dalam gelapnya malam. Tubuhnya terseret hingga ratusan meter. Keluarga bersama warga setempat melakukan pencarian sepanjang malam, namun belum membuahkan hasil. Jasad Maryam akhirnya ditemukan pada Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia.

Bagi masyarakat Mangkang Kulon, banjir sudah menjadi peristiwa yang sering terjadi. Namun kali ini, bencana tersebut meninggalkan luka lebih mendalam karena menimbulkan korban jiwa.

Zaenuddin berharap tragedi serupa tidak kembali terulang. Ia meminta pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Plumbon, termasuk pelebaran dan pengerukan sungai.

“Cukup ibu saya saya yang jadi korban. Jangan ada korban selanjutnya,” katanya.

Warga terdampak lainnya, Ilma Susipa (40), mengaku kini selalu diliputi rasa khawatir setiap kali cuaca mulai mendung di Kota Semarang.

Saat banjir melanda pada malam kejadian, Ilma harus menghadapi situasi mencekam bersama anak-anaknya karena sang suami sedang bekerja.

“Hidup enggak tenang. Kalau hujan sedikit, banjir. Banjir yang ditakutkan sama warga sini kalau tanggulnya jebol gitu. Soalnya dari dulu keseringan banjir sini,” ungkap Ilma.

Ia menceritakan air sempat menggenangi kamar mandi rumahnya setinggi lutut dan menghanyutkan sejumlah pipa paralon. Setelah banjir surut, persoalan kesehatan mulai muncul. Ketika memeriksakan diri di posko kesehatan masjid setempat, Ilma mengeluhkan gatal-gatal pada kulit dan sakit perut akibat buruknya sanitasi pascabanjir.

Bagi warga Mangkang Kulon, bantuan makanan dan layanan kesehatan gratis memang sangat membantu. Namun mereka menilai solusi permanen tetap menjadi kebutuhan utama agar warga dapat hidup lebih tenang.

“Mohon Sungai Plumbon untuk bisa segera dinormalisasi,” pintanya.

Menanggapi keluhan warga, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa penanganan darurat pascabencana di wilayah tersebut telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Ia menyebut pemerintah provinsi bergerak cepat bersama berbagai dinas terkait dalam menangani dampak banjir.

“Misalnya hari ini kita menangani di Sungai Plumbon. Dinas Kesehatan main terkait pengobatan warga, Dinas Ketahanan Pangan main dengan cadangan pangannya, dan Dinas PU main dengan perawatan infrastrukturnya,” jelas Ahmad Luthfi.

Kehadiran Kepala BNPB di lokasi banjir Mangkang Kulon diharapkan dapat mempercepat penanganan infrastruktur Sungai Plumbon secara menyeluruh.

“Semoga tidak ada bencana lagi ke wilayah kita, dan semoga kedatangan BNPB bisa memberikan suatu penanganan yang lebih komprehensif,” ujar Luthfi.

Usai meninjau tanggul sungai dan kondisi warga, Ahmad Luthfi bersama Sekda Jawa Tengah Sumarno menggelar rapat terbatas terkait penanganan banjir Kota Semarang dengan BNPB, BBWS Pemali-Juana, dan Pemerintah Kota Semarang.

Dari rapat tersebut diputuskan bahwa normalisasi Sungai Plumbon akan segera dilakukan. Selain itu, proses pembebasan lahan dan pembangunan hunian sementara (huntara) juga mulai dihitung kebutuhannya. Dalam kesempatan itu, BNPB turut menyalurkan bantuan senilai Rp324.223.000.***