
AKSARAKINI.COM – Penurunan muka tanah di kawasan pesisir Kota Semarang mulai menjadi beban tersendiri bagi pelaku industri dan logistik. Selain menghadapi banjir rob, pengusaha pergudangan harus berkali-kali meninggikan bangunan agar tetap dapat menjalankan aktivitas usaha.
Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, mengatakan kondisi penurunan muka tanah menjadi persoalan yang benar-benar dirasakan pelaku usaha, khususnya di sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Emas.
Teguh menyebut penurunan muka tanah di kawasan tersebut bisa mencapai sekitar 10 sentimeter setiap tahun.
“Menurut teman-teman yang ada di pelabuhan, kebetulan saya juga pergudangan, per tahun 10 sentimeter memang benar. Jadi kalau saya tinggikan satu meter, paling bisa enam tahun atau tujuh tahun harus ditinggikan lagi,” ujar Teguh saat diwawancarai Espos, Kamis (10/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pelaku industri tidak bisa hanya mengandalkan kondisi bangunan yang ada. Ketika permukaan tanah terus turun, ketinggian bangunan dan area operasional juga harus disesuaikan.
Bagi sektor pergudangan dan logistik, kondisi ini menjadi tantangan karena aktivitas usaha sangat bergantung pada akses kendaraan serta kelancaran keluar-masuk barang.
Di sisi lain, ancaman banjir rob semakin memperbesar risiko gangguan operasional. Air laut yang menggenangi akses menuju kawasan pelabuhan dapat menghambat pergerakan kendaraan dan distribusi barang.
Teguh mengatakan dampak rob juga dirasakan oleh perusahaan angkutan truk. Air laut yang mengenai kendaraan secara berulang dapat mempercepat proses pengeroposan atau korosi.
“Kami pengguna jasa dari pergudangan, kendaraan trucking dan sebagainya dirugikan. Karena air pasang ini merusak. Pelabuhannya misalnya kering, di luar banjir. Tetapi truk-truk mengalami pengeroposan atau berkarat,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian karena sektor logistik memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas perdagangan dan industri di kawasan Semarang.
Untuk mengantisipasi dampak rob, Teguh meminta tanggul di kawasan pelabuhan dirawat dan diawasi secara berkala.
Dia mengingatkan infrastruktur penahan air laut tersebut tidak boleh dibiarkan tanpa pemeliharaan. Kerusakan tanggul dapat meningkatkan risiko air laut masuk ke kawasan aktivitas industri dan logistik.
“Jangan sampai tanggul yang ada dibiarkan. Namanya tanggul kan pakai cor, kalau cor pakai besi, besinya juga bisa tumbang nanti. Pihak BUP yang memegang pelabuhan harus selalu update dan merawat tanggul-tanggul yang ada,” tegasnya.
Teguh juga mendorong penguatan perlindungan kawasan pesisir melalui pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa.
Menurutnya, infrastruktur tersebut penting untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi kawasan industri dan logistik yang berada di pesisir Semarang.
Perlindungan kawasan pesisir juga diharapkan dapat menjaga kelancaran akses kendaraan dan distribusi barang dari Pelabuhan Tanjung Emas menuju berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Demak.
Bagi pelaku usaha, penanganan penurunan muka tanah dan banjir rob tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas ekonomi dan efisiensi biaya operasional industri di kawasan pesisir Semarang.(**)