Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun hingga September 2026

redaksi
3 Nov 2026 17:47
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026. Capaian selama sembilan bulan pertama tahun ini tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatat kenaikan 8,3 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), menjadi Rp71,5 triliun.

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan perusahaan terus menjalankan transformasi dengan fokus pada pertumbuhan dan penguatan fundamental bisnis jangka panjang. Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap layanan data dinilai menjadi peluang bagi TelkomGroup untuk mengembangkan bisnis konektivitas dan infrastruktur digital.

“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal,” ujar Nanang dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).

Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp55,5 triliun, tumbuh 2 persen YoY, dengan margin EBITDA 48,9 persen. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Adapun laba bersih setelah normalisasi mencapai Rp16,5 triliun atau meningkat 3,9 persen YoY.

Pada segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, pendapatan mencapai Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen. Telkomsel sebagai salah satu penggerak utama mencatat pendapatan Rp82,9 triliun, naik 1,8 persen YoY. Pertumbuhan ini ditopang bisnis digital yang meningkat 7,7 persen menjadi Rp60,7 triliun.

Strategi peningkatan nilai pelanggan dan monetisasi layanan seluler turut mendorong kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) Telkomsel sebesar 7,1 persen menjadi Rp45.400.

Di bidang infrastruktur digital, pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 5,5 persen YoY menjadi Rp7,1 triliun. Sementara itu, NeutraDC membukukan pendapatan Rp1,39 triliun, meningkat 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan kebutuhan layanan pusat data dan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Segmen B2B ICT juga mencatat pertumbuhan pendapatan 3,1 persen menjadi Rp11,2 triliun. Adapun segmen International tumbuh 5,8 persen menjadi Rp8,9 triliun, terutama didukung peningkatan bisnis jaringan internasional.

Percepat Transformasi TLKM 30

Selain menjaga pertumbuhan bisnis, Telkom melanjutkan transformasi melalui strategi TLKM 30. Program tersebut mencakup empat pilar, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, serta Modus-operandi Shift.

Hingga kuartal III 2026, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas yang terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, dan penggabungan dua entitas.

Perusahaan juga merampungkan pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya optimalisasi aset infrastruktur serta pembukaan peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.

Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen. Sebagian besar belanja modal dialokasikan untuk pengembangan segmen B2C dan B2B Infrastructure.

Nanang menyampaikan, penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas diarahkan untuk membentuk organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan lincah. Dengan demikian, TelkomGroup dapat semakin fokus pada bisnis inti dan penciptaan nilai jangka panjang.

Perseroan optimistis dapat menjaga kinerja hingga akhir 2026 dengan melanjutkan transformasi, memperkuat infrastruktur digital, serta meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan.(**)