
AKSARAKINI.COM – Mi instan hampir selalu menjadi pilihan ketika ingin makan praktis tanpa membutuhkan banyak waktu. Harganya terjangkau, mudah dibuat, dan bisa dikreasikan dengan beragam bahan tambahan.
Mulai dari nasi, telur, kerupuk, sosis hingga keju kerap ditambahkan agar mi instan terasa lebih lezat dan mengenyangkan.
Namun, semakin banyak tambahan yang digunakan bukan berarti kandungan gizinya otomatis semakin baik. Mi instan umumnya sudah mengandung karbohidrat dan natrium cukup tinggi. Jika ditambah makanan lain yang juga tinggi kalori, lemak, karbohidrat, atau natrium, asupan dalam satu kali makan bisa menjadi berlebihan.
Bukan berarti makanan-makanan tersebut sama sekali dilarang. Yang perlu diperhatikan adalah porsi dan frekuensi konsumsinya.
Berikut enam makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikombinasikan dengan mi instan.
Mi instan dicampur nasi merupakan salah satu kombinasi yang sangat populer. Bagi sebagian orang, makan mi tanpa nasi bahkan terasa belum lengkap.
Masalahnya, mi instan dan nasi sama-sama merupakan sumber karbohidrat. Ketika keduanya dikonsumsi dalam porsi besar, jumlah karbohidrat dan kalori dalam satu kali makan bisa menjadi cukup tinggi.
Jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi aktivitas fisik dan makanan bergizi lainnya, risiko kenaikan berat badan dapat meningkat.
Telur sebenarnya termasuk tambahan yang cukup baik untuk mi instan karena dapat memberikan protein. Namun, cara memasaknya perlu diperhatikan.
Telur mentah atau setengah matang memiliki risiko mengandung bakteri Salmonella, terutama jika telur terkontaminasi. Infeksi bakteri tersebut dapat menyebabkan diare, demam, sakit perut, hingga dehidrasi.
Karena itu, jika ingin menambahkan telur ke dalam mi instan, sebaiknya masak hingga putih dan kuning telur benar-benar matang.
Mi instan dan cokelat memang bukan kombinasi yang biasa dimasak dalam satu mangkuk. Namun, sebagian orang mungkin mengonsumsi keduanya dalam waktu berdekatan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah kalori. Produk cokelat, khususnya yang tinggi gula, dapat menambah asupan energi setelah sebelumnya mengonsumsi mi instan.
Jika pola makan seperti ini terlalu sering dilakukan dan total kalori harian melebihi kebutuhan tubuh, berat badan dapat meningkat.
Mi instan dan kerupuk merupakan perpaduan yang sulit ditolak bagi sebagian orang.
Sayangnya, kerupuk dapat menambah asupan karbohidrat dan kalori dalam satu kali makan. Tergantung jenis dan proses pengolahannya, kerupuk juga dapat menyumbang lemak cukup banyak.
Menikmatinya sesekali tentu berbeda dengan menjadikannya kebiasaan dalam jumlah banyak. Karena itu, perhatikan porsinya saat menyantap mi instan.
Kornet dan keju sering digunakan untuk membuat mi instan terasa lebih gurih dan creamy.
Namun, kornet sebagai produk daging olahan dapat mengandung natrium cukup tinggi. Keju juga dapat menambah asupan lemak dan natrium, tergantung jenis yang digunakan.
Jika mi instan sudah mengandung natrium cukup tinggi, penambahan kornet dan keju dalam jumlah banyak dapat membuat total asupan natrium dalam satu porsi semakin tinggi.
Sosis, bakso, dan nugget juga menjadi topping favorit untuk mi instan karena praktis dan mudah ditemukan.
Sebagian produk tersebut merupakan makanan olahan yang dapat mengandung natrium dan lemak cukup tinggi. Ketika dikombinasikan dengan mi instan, kandungan tersebut bisa bertambah dalam satu kali makan.
Konsumsi natrium secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, terutama pada orang yang sensitif terhadap natrium.
Bukan berarti mi instan harus selalu dimakan tanpa tambahan apa pun. Justru, pemilihan topping yang tepat dapat membantu membuat menu lebih seimbang.
Tambahkan sayuran seperti sawi, wortel, bayam, brokoli, atau tauge untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral. Untuk sumber protein, telur yang dimasak hingga matang juga bisa menjadi pilihan.
Selain topping, penggunaan bumbu juga perlu diperhatikan. Jika memungkinkan, gunakan bumbu secukupnya dan hindari menambahkan terlalu banyak bahan yang tinggi garam.
Pada akhirnya, mi instan tetap dapat dinikmati sebagai makanan praktis sesekali. Yang perlu dihindari adalah menjadikannya sebagai menu sehari-hari dengan tambahan topping berkalori tinggi secara berlebihan.
Kuncinya bukan sekadar makanan apa yang dimakan bersama mi instan, melainkan seberapa banyak dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi. (**)