
AKSARAKINI.COM – Pola makan anak pada usia dini kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan kemampuan kognitif anak saat memasuki usia sekolah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan bahan tambahan pada usia dua tahun cenderung memiliki skor IQ lebih rendah dibandingkan anak dengan pola makan yang lebih sehat.
Makanan ultra-olahan yang dimaksud meliputi berbagai produk instan dan kemasan seperti mi instan, sosis, nugget, camilan ringan, minuman manis, serta makanan yang diproses secara industri dengan tambahan pengawet, perasa, dan pewarna.
Tim peneliti dari Universitas Federal Pelotas, Brasil, bersama Universitas Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, menganalisis data lebih dari 3.400 anak yang telah diikuti sejak usia balita.
Pada tahap awal penelitian, orang tua diminta menjelaskan pola makan anak ketika berusia dua tahun. Selanjutnya, saat anak berusia enam hingga tujuh tahun, kemampuan kognitif mereka diukur menggunakan tes kecerdasan standar yang banyak digunakan dalam penelitian psikologi anak.
Hasil analisis menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara pola makan tidak sehat pada usia balita dengan performa kognitif yang lebih rendah beberapa tahun kemudian.
Para peneliti menjelaskan bahwa masa awal kehidupan merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Pada fase tersebut, otak membentuk jutaan koneksi saraf yang berperan dalam kemampuan berpikir, belajar, memecahkan masalah, hingga mengingat informasi.
Proses perkembangan tersebut membutuhkan berbagai nutrisi penting seperti protein, zat besi, seng, vitamin, dan lemak sehat. Ketika kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara optimal, perkembangan fungsi otak dikhawatirkan tidak berjalan maksimal.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kecerdasan anak tidak hanya dipengaruhi oleh makanan. Faktor lingkungan, pendidikan, kondisi sosial ekonomi keluarga, pola asuh, hingga stimulasi belajar juga memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan intelektual anak.
Menariknya, dalam penelitian ini hubungan antara pola makan dan skor IQ tetap ditemukan meskipun peneliti telah memperhitungkan sejumlah faktor lain seperti tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan kondisi lingkungan rumah.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa kualitas makanan pada masa balita merupakan investasi penting bagi perkembangan anak di masa depan.
Karena itu, para ahli menyarankan orang tua untuk lebih membatasi konsumsi makanan ultra-olahan dan memperbanyak asupan makanan segar seperti sayuran, buah-buahan, ikan, telur, susu, serta sumber protein lainnya guna mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak secara optimal.(**)