Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam. (dok Alan Henry)AKSARAKINI.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengantisipasi potensi peningkatan berbagai penyakit di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda belakangan ini. Fokus utama diarahkan pada risiko diare akibat kualitas air, gangguan kesehatan mental, hingga ancaman pada kelompok rentan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan salah satu perhatian utama adalah potensi peningkatan kasus diare akibat sumber air yang rentan terkontaminasi.
“Pastinya kita antisipasi angka kejadian diare. Kenapa diare? Beberapa sumber air, terutama masyarakat yang tidak bisa ter-cover 100% oleh air PDAM, itu akan berisiko sumber-sumber airnya akan terkontaminasi,” katanya saat ditemui, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, langkah antisipasi dilakukan dengan pengambilan sampel air oleh puskesmas untuk memastikan kandungan mikroorganisme masih dalam batas aman.
Selain itu, Dinkes juga mewaspadai potensi gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak sekolah hingga ibu hamil dan remaja.
“Yang kedua adalah kasus-kasus kesehatan mental. Ini juga kita antisipasi, baik itu di anak sekolah, kemudian ibu hamil, bahkan remaja,” paparnya.
Kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lansia juga menjadi perhatian khusus karena berisiko mengalami dehidrasi hingga komplikasi serius.
“Kelompok rentan ini yang masuk di sini ibu hamil. Ibu hamil risiko dia akan preeklampsia, karena dia dehidrasi kan kepanasan,” katanya.
Sementara itu, pada usia produktif, Dinkes mengingatkan potensi lonjakan penyakit tidak menular, terutama terkait kadar gula darah yang tidak terkontrol akibat konsumsi minuman manis berlebihan.
“Yang diminum itu bukan air putih, yang diminum adalah minuman-minuman manis. Itu pasti akan menambah kadar gula darahnya tidak terkontrol,” ujarnya.
Meski demikian, Dinkes memastikan langkah antisipasi telah dilakukan secara menyeluruh, termasuk pemetaan wilayah hingga tingkat kelurahan.
“Semua sudah kita antisipasi. kawan-kawan kita di Kecamatan dan Kelurahan sudah dipetakan,” katanya.
Di sisi lain, risiko demam berdarah juga tetap diwaspadai, meskipun angka kasus disebut mengalami penurunan signifikan berkat inovasi pengendalian.
“Dari situlah kemudian angka kita sudah turun sekitar 70%-an angka kasus demam berdarah,” ungkapnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Dinkes berharap tidak terjadi lonjakan kasus yang signifikan meski kondisi cuaca masih fluktuatif. ***