Bertahan di Tengah Rob, Mak Jah Terima Bantuan Rumah Apung dari Pemprov Jateng

Alan Henry
25 Apr 2026 11:56
Daerah 0
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Di tengah kepungan abrasi yang mengubah daratan menjadi lautan di pesisir Sayung, Kabupaten Demak, sosok Pasijah atau yang akrab disapa Mak Jah tetap bertahan menjaga kampung halamannya. Perempuan berusia 56 tahun ini dikenal sebagai pejuang mangrove yang tak lelah melawan abrasi di Desa Bedono.

Di saat sebagian besar warga telah meninggalkan wilayah tersebut, Mak Jah memilih tetap tinggal meski rumahnya kini dikelilingi air laut. Dari sekitar 200 kepala keluarga yang dulunya menghuni kawasan itu, kini hanya keluarganya yang masih bertahan.

Mak Jah mengenang, wilayah tersebut dulunya merupakan desa subur dengan hamparan sawah dan berbagai tanaman palawija. Namun kondisi berubah drastis sejak awal tahun 2000-an, ketika air rob mulai sering datang dan perlahan menenggelamkan permukiman warga.

“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik, makin tinggi,” kisah Pasijah saat ditemui, Jumat (24/4/2026).

Alih-alih pergi, Mak Jah justru mengambil peran sebagai penjaga lingkungan dengan menanam mangrove secara mandiri. Ia memulai dari skala kecil, bahkan harus membuat bibit sendiri karena keterbatasan.

“Saya mulai tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya buat sendiri. Alhamdulillah berkembang. Ada juga yang kirim dari jauh,” ujarnya.

Upaya tersebut kini membuahkan hasil. Kawasan di sekitar rumahnya mulai dipenuhi mangrove yang berfungsi menahan abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, hingga burung. Perjuangannya membuat Mak Jah dijuluki sebagai “Kartini Laut Sayung”.

Meski begitu, kehidupan di tengah genangan laut bukan hal mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus menempuh perjalanan dengan perahu selama 15 hingga 30 menit menuju daratan, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pasar.

“Kalau ombak besar ya sulit. Kadang tidak bisa tidur. Tapi saya sudah terbiasa. Yang penting sehat dan bisa bekerja,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi memberikan bantuan berupa rumah apung sebagai solusi adaptif menghadapi rob.

Mak Jah mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi dirinya, terutama saat air pasang tinggi.

“Awalnya saya dipanggil, katanya mau dibantu rumah. Saya minta anak saya yang mengurus. Alhamdulillah langsung diberikan,” ungkapnya.

“Senang sekali. Kalau rob besar bisa dipakai untuk tinggal. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menjelaskan bahwa pembangunan rumah apung merupakan salah satu solusi untuk masyarakat pesisir yang terdampak abrasi.

Program ini juga merupakan bagian dari kolaborasi lintas pihak, termasuk pemerintah daerah dan sektor perbankan, serta usulan dari Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin melalui program PKK Sigab (Siaga dan Tanggap Bencana).

Hingga akhir 2025, tercatat sebanyak 15 unit rumah apung telah dibangun di wilayah terdampak, dan pada tahun 2026 ditargetkan bertambah menjadi 20 unit, mayoritas berada di Desa Timbulsloko dan sebagian di Desa Bedono.

Dengan bantuan tersebut, diharapkan warga pesisir dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang terus berubah, sekaligus tetap menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami dari abrasi.

Bagi Mak Jah, bertahan di tanah kelahiran bukan sekadar pilihan, tetapi bentuk pengabdian terhadap alam dan kehidupan.

“Kalau tidak saya tanami, mungkin sudah habis dari dulu,” tegasnya. ***