Transaksi UMKM Bisa Ekspor Tembus US$333 Juta, Mendag Ungkap Tantangannya

redaksi
10 Sep 2026 08:45
4 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Program UMKM Bisa Ekspor menunjukkan perkembangan signifikan. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mencatat nilai transaksi program tersebut mencapai US$333 juta sepanjang Januari-Juli 2026.

Nilai itu meningkat dibandingkan total transaksi yang tercatat pada tahun sebelumnya, yakni US$134,8 juta. Menurut Budi, sebagian besar pelaku usaha yang mengikuti program tersebut merupakan UMKM yang membutuhkan dukungan untuk menembus pasar internasional.

“Itu isinya ya kebanyakan UMKM, makanya namanya programnya UMKM Bisa Ekspor. Kalau yang gede-gede cari buyer sudah jago dia ya. Kalau yang UMKM ini harus kita bantu,” ujar Budi saat membuka Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Auditorium Kemendag, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Budi mengatakan tantangan UMKM untuk masuk pasar global tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk. Kemampuan memasarkan dan membuat produk mudah ditemukan calon konsumen juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Ia menilai produk asing yang masuk ke Indonesia tidak selalu memiliki kualitas jauh lebih baik dibandingkan produk lokal. Namun, sejumlah produk asing memiliki dukungan modal promosi yang besar sehingga lebih mudah dikenal konsumen.

“Karena banyak produk asing itu yang masuk ke Indonesia, sebenarnya kualitasnya nggak jauh beda dengan kita, tapi dia pintar jualan, promosi. Ya, dia modalnya besar untuk beriklan, sehingga dia.. ya kan yang penting viral dulu kan gitu kan?” katanya.

Karena itu, Budi mendorong pelaku UMKM mulai mengoptimalkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan pemasaran dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Kalau udah viral kan, nah Bapak-Ibu nanti diajarin supaya bisa viral juga kan ya produknya. Nah itu yang paling penting,” ujarnya.

Selain memperkuat pasar domestik melalui program Pengamanan Pasar Dalam Negeri, pemerintah juga membuka akses bagi UMKM untuk mencari pembeli di luar negeri melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia.

Saat ini, terdapat 46 perwakilan perdagangan yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara.

“Kita itu ada 46 perwakilan, Atase Perdagangan dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center), ya. Di 33 negara. Jumlahnya 46 di 33 negara,” tutur Budi.

Menurut dia, UMKM dapat mempresentasikan produk mereka secara online kepada perwakilan perdagangan Indonesia. Selanjutnya, perwakilan akan membantu mencari calon buyer yang sesuai dengan produk yang ditawarkan.

“Nah setelah itu, perwakilan kita mencarikan buyer. Setelah perwakilan dapat buyer, Bapak-Ibu presentasi lagi langsung ke buyer-nya,” jelasnya.

Budi menyebut sekitar 70 persen peserta program UMKM Bisa Ekspor bahkan belum pernah melakukan kegiatan ekspor. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya kebutuhan pendampingan bagi pelaku usaha untuk memasuki pasar global.

Di sisi lain, kesiapan produksi juga menjadi faktor penting. UMKM yang mendapatkan permintaan dari luar negeri harus mampu memastikan kapasitas produksi dapat memenuhi kebutuhan calon pembeli.

Berni mengatakan persoalan lain yang dihadapi UMKM Indonesia adalah discoverability, yakni kemampuan produk untuk ditemukan oleh calon konsumen.

“Satu tantangan konsisten yang kami temukan adalah discoverability. Kami tidak ragu dengan kualitas produk UMKM Indonesia, namun sayangnya yang menjadi kendala adalah exposure-nya masih terbatas, terutama di luar negeri,” kata Berni.

Pemanfaatan AI dinilai dapat membantu mengatasi persoalan tersebut. Teknologi ini dapat digunakan untuk menyusun strategi pemasaran, membuat konten visual, menulis copywriting, hingga menerjemahkan caption sesuai bahasa negara tujuan.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam pelatihan tersebut adalah Meta Business Agent. Teknologi ini disebut dapat membantu UKM merespons calon pembeli selama 24 jam dalam tujuh hari.

“Dan solusi selanjutnya yang terbaru adalah Meta Business Agent, yang dapat menjadi asisten UKM untuk merespon calon pembeli 24 jam selama 7 hari, sehingga tidak satupun peluang yang terlewatkan,” ujarnya.

Efektivitas promosi digital juga dicontohkan melalui sejumlah UMKM. Brand fashion muslim asal Bandung, Zaya, disebut mendapatkan pesanan abaya dan pakaian muslim dari Malaysia senilai Rp1,4 juta setelah mengeluarkan anggaran iklan Rp150.000.

Sementara itu, Abu Jamu dari Batam dengan modal iklan Rp135.000 selama tujuh hari disebut berhasil membuat iklannya dilihat lebih dari 63.000 kali dan menghasilkan pesanan 60 bungkus jahe instan dari Malaysia senilai Rp3 juta.

Founder UKMIndonesia.id, Dewi Meisari, mengatakan AI dapat membuat teknologi pemasaran lebih mudah diakses oleh pelaku usaha mikro dan kecil.

“Kalau dalam penerapan teknologi AI di sini, konteksnya adalah AI untuk memudahkan dan menekan biaya produksi dan efisiensi promosi,” kata Dewi.

Menurutnya, AI juga dapat memangkas biaya pembuatan materi promosi. Pelaku UMKM yang sebelumnya membutuhkan biaya besar untuk melakukan pemotretan produk, misalnya, dapat memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan materi visual dengan biaya yang lebih rendah.

“Jadi di sini kalau saya menyebutnya, ya inilah teknologi yang inklusif gitu ya, membuat sesuatu akses yang tadinya itu ‘ah terlalu mahal untuk UMKM lah’,” ujarnya.

Dengan semakin terbukanya akses teknologi dan jaringan pembeli internasional, UMKM Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar. Tantangannya kini adalah memastikan produk lokal tidak hanya berkualitas, tetapi juga mampu tampil dan ditemukan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. (**)