17.500 Pedagang Bakso di Jateng Didorong Naik Kelas, Ini Strateginya

Alan Henry
17 Apr 2026 17:58
Daerah 0
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Jumlah pedagang bakso di Jawa Tengah mencapai sekitar 17.500 orang berdasarkan data Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Nusantara Bersatu (Apmiso). Angka tersebut menunjukkan besarnya peran sektor usaha ini dalam menopang ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menilai para pedagang bakso merupakan pelaku ekonomi mikro dengan jumlah yang sangat besar dan berkontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi daerah. Hal itu disampaikan saat menghadiri acara silaturahmi dan halal bihalal Apmiso Jawa Tengah di Wisma Perdamaian, Jumat (17/4/2026).

“Pedagang bakso di Jateng ini merupakan pegiat ekonomi mikro yang jumlahnya paling besar,” ujarnya.

Meski demikian, Luthfi menekankan pentingnya pendampingan bagi para pelaku usaha tersebut agar mampu berkembang dan naik kelas. Ia menyebut, dukungan yang dibutuhkan mencakup berbagai aspek, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pemenuhan standar usaha seperti sertifikasi halal.

Sertifikasi halal tidak gampang, dari mulai alat dan sebagainya, berarti dinas kita harus ikut serta, sehingga penjual bakso kita punya sertifikasi,” jelasnya.

Menurutnya, intervensi pemerintah sangat diperlukan agar usaha bakso tidak stagnan di level mikro. Dengan adanya pendampingan dan regulasi yang jelas, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas jangkauan pasar.

Luthfi juga menilai sektor usaha bakso merupakan salah satu jenis usaha rakyat yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi. Keberadaan pedagang bakso dinilai memiliki dampak langsung terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

“Saya senang sekali hari ini bisa berada di tengah-tengah teman-teman penjual bakso yang secara tidak langsung akan memberikan kontribusi bagi ekonomi mikro di Jawa Tengah,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Apmiso, Lasiman, mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi para pedagang bakso, di antaranya meningkatnya persaingan usaha serta persoalan bahan baku.

Ia menilai akses pembiayaan menjadi faktor penting untuk mendorong pelaku usaha meningkatkan skala bisnis, baik dari sisi aset maupun omzet. Selain itu, Lasiman juga mendorong adanya kolaborasi dengan kalangan akademisi agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi, pemasaran, dan proses produksi.

Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan dunia pendidikan, diharapkan sektor usaha bakso di Jawa Tengah dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian daerah. ***