
AKSARAKINI.COM – Produsen kendaraan listrik asal China, BYD Co., semakin mengandalkan pasar luar negeri di tengah persaingan industri otomotif domestik yang semakin ketat. Untuk pertama kalinya, pendapatan BYD dari pasar internasional berhasil melampaui pendapatan dari pasar domestik China.
Pada semester pertama 2026, penjualan BYD di luar negeri meningkat 34 persen menjadi 181,3 miliar yuan atau sekitar US$27 miliar. Kontribusinya mencapai 53 persen dari total penjualan perusahaan. Sebaliknya, penjualan di wilayah China Raya justru mengalami penurunan sebesar 31 persen.
Kinerja tersebut membantu BYD mengakhiri salah satu periode penurunan laba terpanjangnya. Laba bersih perusahaan pada kuartal kedua meningkat 30 persen menjadi 8,2 miliar yuan, sekaligus menjadi kenaikan laba pertama dalam lima kuartal.
Performa BYD mencerminkan semakin beratnya persaingan di pasar otomotif China. Perang harga yang berlangsung berkepanjangan membuat produsen kendaraan harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan penjualan dan margin keuntungan.
BYD menyebut industri otomotif China saat ini memasuki tahap penyesuaian dengan kondisi permintaan domestik yang melemah, sementara pertumbuhan ekspor terus menguat. Karena itu, pasar internasional menjadi salah satu sumber pertumbuhan utama perusahaan.
Daya tarik pasar luar negeri terletak pada kemampuan produsen mobil China menjual kendaraan dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga di dalam negeri, namun tetap kompetitif dibandingkan merek lokal di negara tujuan.
Salah satu contohnya adalah BYD Seal U, SUV plug-in hybrid yang di Jerman dijual mulai 39.900 euro. Harga tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga model serupa di China. Perbedaan harga ini memberikan peluang bagi BYD untuk memperoleh margin keuntungan yang lebih besar di pasar internasional.
Pertumbuhan ekspor juga terjadi secara luas pada industri otomotif China. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penjualan kendaraan penumpang China ke luar negeri melonjak 88 persen pada Juli 2026. Di sisi lain, penjualan kendaraan penumpang di pasar domestik turun 21 persen pada bulan yang sama.
Namun, ekspansi global BYD menghadapi tantangan baru. Sejumlah negara mulai memperketat perdagangan kendaraan asal China melalui tarif dan berbagai kebijakan proteksi industri dalam negeri.
Pasar Amerika Serikat praktis tertutup bagi produsen mobil China, sementara Uni Eropa telah menerapkan tarif terhadap kendaraan listrik asal China dan mempertimbangkan langkah serupa untuk kendaraan hibrida. Brasil dan Meksiko juga mengambil kebijakan untuk membatasi lonjakan impor kendaraan dari China.
Untuk mengurangi risiko tarif dan hambatan perdagangan, BYD berupaya membangun fasilitas produksi di sejumlah pasar utama. Perusahaan tengah membangun pabrik di Hungaria yang ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal keempat 2026, meski proyek tersebut mengalami penundaan dari target awal.
BYD juga terus mencari peluang di pasar yang dikenal sulit ditembus. Salah satunya Jepang, melalui peluncuran Racco, mobil listrik berukuran kecil yang dirancang menyesuaikan karakter jalan dan kebutuhan konsumen Jepang.
Dengan kondisi pasar domestik China yang masih penuh tekanan, ekspansi internasional diperkirakan akan menjadi semakin penting bagi BYD. Pertumbuhan penjualan di luar negeri tidak hanya membuka pasar baru, tetapi juga memberikan peluang bagi perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan laba di tengah perang harga di dalam negeri.(**)