Pendiri Dinasti Ming Pernah Puji Nabi Muhammad SAW, Ini Isi “Pujian 100 Kata”

redaksi
27 Agu 2026 11:42
Berita 0
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Hubungan Islam dan China memiliki sejarah panjang. Salah satu kisah menarik terjadi pada masa Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming yang memerintah China pada 1368-1398.

Zhu Yuanzhang dikenal pernah memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW melalui sebuah teks yang kemudian dikenal sebagai “Pujian 100 Kata” atau Hundred-word Eulogy.

Dalam teks tersebut, Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok agung, bijaksana, serta pembawa rahmat bagi seluruh alam. Pujian itu menjadi salah satu catatan menarik mengenai keberadaan dan penerimaan Islam di lingkungan kekaisaran China pada masa Dinasti Ming.

Kisah tersebut berlangsung ketika Islam berkembang cukup pesat di China. Pada masa pemerintahan Zhu Yuanzhang, Islam tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan komunitas Muslim, tetapi juga mulai memiliki peran dalam kehidupan sosial, politik, dan administratif kekaisaran.

Islam Berkembang di Era Dinasti Ming

Riset Islam in Imperial China (2019) mencatat adanya perkembangan jumlah masyarakat yang memeluk Islam pada masa tersebut.

Penyebaran Islam berlangsung melalui dakwah individual yang kemudian berkembang menjadi komunitas, kampung, klan, hingga jaringan sosial yang lebih luas.

Perkembangan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan keterlibatan umat Islam dalam berbagai bidang kehidupan kekaisaran. Masjid dan pusat pembelajaran Islam didirikan, sementara sejumlah Muslim dipercaya mengisi posisi dalam struktur pemerintahan.

Mereka terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari administrasi dan militer hingga lingkungan istana.

Sejumlah Muslim bahkan dipercaya menjadi penasihat istana, kasim, utusan kekaisaran, gubernur wilayah, serta pejabat yang menjalankan tugas diplomatik. Para cendekiawan Muslim juga memperoleh dukungan dari negara.

Jejak keberadaan Islam pada masa itu turut terlihat melalui peninggalan budaya. Prasasti-prasasti Islam dengan aksara Arab dan Persia ditemukan pada sejumlah artefak, termasuk porselen yang berkaitan dengan lingkungan istana kekaisaran.

Isi Pujian untuk Nabi Muhammad

Di tengah perkembangan tersebut, muncul teks yang dikenal sebagai “Pujian 100 Kata”. Karya tersebut menjadi salah satu simbol penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW dalam sejarah China.

Dalam puisi tersebut, Nabi Muhammad digambarkan sebagai pembawa agama yang berasal dari wilayah barat, penerima kitab suci, serta sosok yang membawa perubahan bagi umat manusia.

Salah satu bagian pujian tersebut menyebut:

“Rahmat bagi seluruh alam, yang jalannya terkemuka sepanjang masa. Muhammad adalah orang bijak yang paling mulia.”

Keberadaan teks tersebut kemudian menjadi perhatian dalam kajian mengenai hubungan Islam dan kekaisaran China.

Riset Praising the Prophet Muhammad in China menginterpretasikan puisi tersebut sebagai indikasi bahwa Zhu Yuanzhang memiliki pemahaman dan penghormatan terhadap ajaran Islam, meskipun tidak berarti ia merupakan seorang Muslim.

Dengan demikian, “Pujian 100 Kata” tidak hanya dapat dilihat sebagai penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Teks tersebut juga menggambarkan bagaimana Islam dan figur Nabi Muhammad dipandang dalam lingkungan sosial dan politik China pada masa Dinasti Ming.

Ada Dukungan, tetapi Juga Proses Sinisasi

Meski Islam memperoleh ruang untuk berkembang, sejarah umat Muslim pada masa Dinasti Ming juga memiliki sisi yang kompleks.

Komunitas Muslim secara perlahan mengalami proses sinesisiasi (sinisasi), yakni proses adaptasi dan asimilasi dengan budaya serta lingkungan sosial China.

Kajian Islam in Imperial China: Sinicization of Minority Muslims and Synthesis of Chinese Philosophy and Islamic Tradition (2019) menyebut proses tersebut turut memengaruhi perkembangan identitas kultural Muslim Hui.

Dalam prosesnya, sebagian unsur budaya Muslim berinteraksi dan berbaur dengan tradisi masyarakat Tionghoa. Hal tersebut melahirkan bentuk identitas dan tradisi yang merupakan perpaduan antara budaya China dan warisan Islam.

Karena itu, masa pemerintahan Zhu Yuanzhang menjadi salah satu periode menarik dalam sejarah Islam di China.

Di satu sisi, komunitas Muslim berkembang dan sejumlah tokohnya mendapat ruang dalam struktur kekaisaran. Di sisi lain, umat Muslim juga menghadapi proses adaptasi budaya yang berlangsung secara bertahap.

Di tengah dinamika tersebut, “Pujian 100 Kata” menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan bagaimana Nabi Muhammad SAW mendapat penghormatan di lingkungan kekaisaran China pada masa Dinasti Ming. (**)