Ekspor Jateng Makin Menggeliat, Produk Lokal Sudah Masuk 119 Negara

redaksi
24 Agu 2026 17:00
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Produk unggulan Jawa Tengah semakin menunjukkan daya saing di pasar internasional. Hingga Juli 2026, berbagai komoditas asal Jawa Tengah tercatat telah dipasarkan ke 119 negara di berbagai belahan dunia.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah diterbitkan 14.960 sertifikat ekspor untuk komoditas asal Jawa Tengah. Nilai transaksi ekspor dalam periode tersebut mencapai Rp10,9 triliun.

Komoditas yang menembus pasar global cukup beragam. Mulai dari produk peternakan, perikanan, hingga hasil pertanian dan industri berbasis tumbuhan.

Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan, capaian tersebut menjadi gambaran besarnya potensi produk Jawa Tengah untuk terus dikembangkan di pasar internasional.

Hal itu disampaikan Karding saat menghadiri Forum Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) di Kantor Barantin Jawa Tengah, Madukoro, Semarang, Sabtu (22/8/2026).

Menurutnya, percepatan pelayanan menjadi bagian penting dalam transformasi Barantin untuk membantu pelaku usaha menghadapi persaingan perdagangan global.

“Barantin berkomitmen terus memfasilitasi perdagangan dengan memberikan pelayanan secara optimal dan responsif terhadap dinamika bisnis internasional,” ujar Karding.

Data Barantin Jawa Tengah menunjukkan, sejumlah komoditas hewan yang menjadi bagian dari aktivitas ekspor antara lain sarang burung walet, kulit kambing, kulit sapi, bulu bebek, dan pupuk.

Dari sektor perikanan, komoditas Jawa Tengah yang masuk pasar internasional di antaranya cumi-cumi, ikan tenggiri, udang vaname, ikan kerapu, dan ikan kakap.

Sementara dari sektor tumbuhan dan industri pengolahan, terdapat kayu lapis, kayu albasia, furnitur, bunga melati segar, serta kayu veneer.

Beragamnya komoditas tersebut memperlihatkan bahwa pasar ekspor Jawa Tengah tidak hanya ditopang oleh satu atau dua jenis produk.

Aktivitas sertifikasi ekspor tersebut tercatat melalui sistem BEST TRUST (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology).

Karding mengatakan, digitalisasi layanan akan terus diperkuat agar proses pelayanan karantina dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Salah satu produk yang menunjukkan perkembangan positif adalah gula merah produksi UMKM Jawa Tengah.

Berdasarkan data BEST TRUST, gula merah asal Jawa Tengah selama Januari-Juli 2026 telah diekspor secara rutin ke 43 negara.

Pasar ekspornya tersebar di berbagai kawasan, termasuk Amerika, Eropa, hingga Australia.

Sepuluh negara tujuan ekspor gula merah tersebut yakni Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Yunani, Australia, Peru, Kanada, Belgia, dan Meksiko.

Karding menilai keberhasilan tersebut perlu menjadi momentum untuk mendorong lebih banyak produk UMKM Jawa Tengah masuk ke pasar global.

Caranya, antara lain dengan meningkatkan kualitas produk serta memastikan pelaku usaha memahami persyaratan dan standar yang ditetapkan masing-masing negara tujuan.

Di tengah tuntutan percepatan perdagangan, Barantin memastikan aspek keamanan hayati tetap menjadi prioritas.

Karding menegaskan bahwa percepatan proses pelayanan tidak boleh diartikan sebagai pengurangan standar karantina.

“Percepatan layanan bukan berarti mengurangi standar keamanan hayati atau biosecurity,” tegasnya.

Menurut dia, sistem karantina harus mampu memastikan setiap komoditas yang keluar maupun masuk Indonesia memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan hayati, serta ketentuan negara tujuan.

“Barantin bertindak sebagai penjaga perbatasan ekonomi sekaligus fasilitator perdagangan. Kami mengawal peningkatan mutu produk, pemenuhan standar sanitari-fitosanitari atau SPS negara tujuan, ketertelusuran, hingga hilirisasi komoditas ekspor,” jelas Karding.

Selain memperkuat digitalisasi, Barantin juga akan meningkatkan pendampingan bagi UMKM dan mendorong standardisasi fasilitas tindakan karantina.

Masukan dari pelaku usaha yang disampaikan melalui Forum Jaring Asmara akan menjadi salah satu bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan di lapangan.

“Jaring Asmara bukan sekadar nama, melainkan komitmen institusi untuk merangkul masyarakat usaha dengan pendekatan yang humanis, inklusif, dan transparan,” katanya.

Karding menambahkan, penguatan perdagangan harus tetap diimbangi dengan sistem biosecurity yang andal.

“Keandalan sistem biosecurity nasional harus tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kelancaran arus logistik perdagangan internasional,” pungkasnya. (**)