
AKSARAKINI.COM, – Di tengah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang menjadi agenda tahunan sekolah formal, Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang menerapkan mekanisme berbeda dalam merekrut peserta didik baru.
Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut tidak membuka pendaftaran melalui jalur SPMB. Sebaliknya, proses penerimaan siswa dilakukan melalui sistem penjangkauan yang melibatkan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Dinas Sosial (Dinsos).
Guru Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang, Aristia Fatmawati, mengatakan mekanisme penerimaan siswa di sekolahnya dirancang untuk memastikan anak-anak yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan tetap memperoleh kesempatan belajar.
“Kami tidak ada SPMB seperti sekolah pada umumnya. Mekanisme penerimaan siswa di sini menggunakan istilah penjangkauan yang dilakukan melalui koordinasi dengan SDM PKH dan Dinsos,” ujarnya.
Melalui sistem tersebut, pendamping PKH dan Dinas Sosial di tingkat kecamatan melakukan identifikasi terhadap anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan. Setelah itu, data calon siswa disampaikan dan dikoordinasikan dengan pihak sekolah.
Menurut Aristia, pihak sekolah tidak terlibat langsung dalam proses penjangkauan di lapangan. Seluruh mekanisme dilakukan oleh instansi terkait yang telah memiliki data keluarga sasaran dan melakukan pendampingan secara berkelanjutan.
Minat Masyarakat terhadap Sekolah Rakyat Semarang Tinggi
Meski tidak membuka pendaftaran seperti sekolah formal pada umumnya, minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang terbilang tinggi. Banyak orang tua datang langsung ke sekolah maupun menghubungi pihak sekolah melalui media sosial untuk mencari informasi terkait proses penerimaan siswa.
Selain menerapkan sistem penerimaan yang berbeda, Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang juga memiliki pendekatan pembelajaran yang khas. Sebelum mengikuti Kurikulum Nasional, seluruh siswa diwajibkan mengikuti Kurikulum Persiapan selama tiga bulan.
Program tersebut difokuskan untuk membangun karakter, kedisiplinan, serta kebiasaan positif sebelum peserta didik memasuki pembelajaran akademik.
“Kami tidak langsung fokus ke pelajaran akademik atau non-akademik. Di awal, karakter anak dibangun melalui kurikulum persiapan. Mereka diajarkan rutinitas kemandirian sehari-hari seperti cara menyetrika, mencuci baju sendiri, pembiasaan salat, hingga doa harian,” kata Aristia.
Fokus Bangun Motivasi Belajar dan Kemandirian Siswa
Aristia menjelaskan tantangan terbesar yang dihadapi sekolah pada tahap awal bukanlah kemampuan akademik siswa, melainkan membangun motivasi belajar.
Sebagian besar anak yang bergabung sebelumnya belum memiliki keinginan kuat untuk bersekolah. Karena itu, sekolah lebih mengutamakan pembentukan karakter dan kebiasaan positif sebagai fondasi utama pendidikan.
Setelah hampir 11 bulan berjalan, perubahan positif mulai terlihat. Anak-anak yang sebelumnya belum terbiasa melakukan aktivitas secara mandiri kini mulai mampu mengurus kebutuhan sehari-hari tanpa bantuan orang lain.
Kemampuan literasi siswa juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sejumlah peserta didik yang sebelumnya belum mengenal huruf kini telah mampu membaca kata maupun suku kata dengan baik.
Saat ini Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang memiliki 20 guru dan satu kepala sekolah yang mendampingi sekitar 87 siswa dari jenjang SD dan SMA.
Untuk tahun ajaran baru, kapasitas sekolah akan ditingkatkan secara signifikan. Total kuota peserta didik yang disediakan mencapai 270 siswa, dengan masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA menampung 90 siswa.
“Untuk tahun ajaran baru nanti, total kuota yang kami sediakan berkembang menjadi 270 siswa, di mana masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA akan menampung 90 siswa,” ungkap Aristia.(**)