Jateng Pastikan Stok Hewan Kurban 2026 Surplus Jelang Iduladha

Alan Henry
19 Mei 2026 12:35
Daerah 0
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan persediaan hewan kurban untuk Iduladha 2026 dalam kondisi surplus. Total hewan ternak yang diperkirakan akan digunakan untuk kurban mencapai 593.168 ekor, meliputi sapi, kerbau, kambing, dan domba.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa dari total populasi ternak sekitar 6,3 juta ekor, kebutuhan hewan kurban tahun 2026 diperkirakan berada di kisaran 9-10 persen. Menurutnya, jumlah tersebut dapat terpenuhi karena Jawa Tengah menjadi salah satu sentra peternakan nasional di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi.

“Keseluruhan sekitar 6,3 juta ekor. Sedangkan untuk kurban sekitar 9-10 persen, atau 593.168 ekor. Jadi jelas terpenuhi. Itu juga termasuk memenuhi hewan kurban dari Pak Presiden yang akan memberi sapi minimal berbobot 1 ton, masing-masing satu ekor untuk setiap kabupaten/kota ditambah satu ekor untuk provinsi, total 36 ekor,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan data Distannak Jateng, estimasi kebutuhan kurban tahun 2026 terdiri atas 140.745 ekor sapi, 321.872 ekor kambing, 126.078 ekor domba, dan 4.472 ekor kerbau. Untuk komoditas sapi, kambing, dan domba, Jawa Tengah tercatat mengalami surplus. Namun, kebutuhan kerbau masih belum terpenuhi karena ketersediaannya hanya mencapai 1.204 ekor.

Data pemotongan hewan kurban selama 2024-2025 menunjukkan tren peningkatan pada sebagian besar jenis ternak. Pemotongan sapi tercatat naik 8,9 persen, kambing meningkat 22,3 persen, dan domba bertambah 25,7 persen. Sementara itu, pemotongan kerbau justru turun 11,6 persen.

Menjelang Hari Raya Iduladha, Distannak Jateng juga memperketat pengawasan lalu lintas ternak untuk mencegah penyebaran penyakit dari luar daerah maupun antarwilayah.

Pengawasan dilakukan di sejumlah wilayah perbatasan seperti Rembang, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri. Apabila ditemukan hewan ternak yang tidak sehat, petugas akan mengimbau agar hewan tersebut tidak diperdagangkan demi mencegah penularan kepada ternak lain yang sehat.

“Bukan hanya untuk kurban, misalnya hewan ternak untuk MBG, kami minta surat keterangan sehat. Jadi ketika hewan ternak berpindah harus ada surat tersebut dan kesehatannya sudah dicek,” ungkapnya.

Hingga kini, Frans menyebut belum ditemukan kasus serius terkait kesehatan hewan ternak di Jawa Tengah. Meski begitu, masyarakat tetap diimbau waspada dengan memperhatikan kondisi fisik hewan, seperti kuku yang bersih tanpa luka, mata cerah, tidak cacat, dan tidak mengeluarkan air liur secara berlebihan.***