Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan (Sandal), Muchammad Nur Huda. (dok Alan Henry)AKSARAKINI.COM – Munculnya sejumlah kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren belakangan ini mendapat perhatian dari Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan (Sandal), Muchammad Nur Huda atau yang akrab disapa Gus Huda.
Dalam forum SEMAR (Senin Malam di Serambi) yang digelar pada Senin (8/6/2026), Gus Huda menegaskan bahwa tindakan kekerasan maupun pelecehan seksual tidak dapat ditoleransi karena bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan dan ajaran agama yang selama ini menjadi fondasi pesantren.
Meski demikian, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggeneralisasi seluruh pondok pesantren akibat ulah segelintir oknum. Menurutnya, mayoritas pesantren tetap menjalankan fungsi pendidikan agama dan pembentukan karakter dengan berlandaskan sanad keilmuan yang jelas.
“Sangat disayangkan ketika ada oknum yang selama ini berdakwah dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat, tetapi justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan apa yang disampaikan,” ujar Gus Huda.
Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan istilah yang dikenal di kalangan ulama, yakni “pondok wesi” dan “pondok plastik”. Pondok wesi merujuk pada pesantren yang memiliki dasar pendidikan agama yang kuat, mengajarkan kitab-kitab yang jelas sanadnya, serta memiliki sistem pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya, pondok plastik merupakan istilah untuk lembaga yang hanya menggunakan atribut keagamaan tanpa fondasi pendidikan yang kuat dan jelas.
Karena itu, Gus Huda mendorong pemerintah untuk tidak hanya memberikan dukungan anggaran kepada pesantren, tetapi juga meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, regulasi yang telah ada, termasuk Peraturan Daerah tentang Pesantren, dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pengawasan agar lembaga pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan dan fungsinya.
“Pemerintah perlu hadir untuk mengawal dan mengawasi. Tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memastikan tidak ada praktik-praktik yang merugikan santri,” katanya.
Ia bahkan menyatakan dukungannya terhadap langkah tegas apabila ditemukan pesantren yang terbukti melakukan pelanggaran berat, termasuk kekerasan seksual.
“Kalau memang terbukti melakukan hal seperti itu, lebih baik dibubarkan,” tegasnya.
Namun demikian, Gus Huda menilai kesalahan individu tidak boleh menghapus seluruh nilai positif yang telah diajarkan sebuah lembaga pendidikan. Menurutnya, masyarakat tetap harus mampu membedakan antara tindakan oknum dengan institusi secara keseluruhan.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Huda juga menyoroti pentingnya pengamalan nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Ia menilai berbagai konflik sosial yang muncul belakangan ini tidak lepas dari menurunnya sikap saling menghormati perbedaan. Oleh karena itu, forum SEMAR yang rutin digelar diharapkan dapat menjadi ruang dialog untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Tujuan SEMAR adalah merekatkan perbedaan, menyatukan yang belum saling mengenal menjadi saling mengenal, yang jauh menjadi dekat, bahkan yang bermusuhan menjadi berteman,” ungkapnya.
Gus Huda menjelaskan, Pondok Pesantren Santri Ndalan selama ini terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan memperbaiki diri tanpa membedakan latar belakang agama, budaya, maupun status sosial.
Menurutnya, keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama, bukan justru dijadikan sumber perpecahan.
“Kita hidup di negara yang sangat beragam. Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, kita harus memahami bahwa Indonesia memiliki banyak perbedaan budaya, agama, dan tradisi yang harus dihormati,” katanya.
Di akhir diskusi, Gus Huda berpesan kepada para orang tua agar lebih selektif dalam memilih pesantren untuk pendidikan anak-anaknya. Ia menyarankan agar masyarakat memperhatikan kualitas pengajar, kejelasan sanad keilmuan, serta visi pendidikan yang dimiliki lembaga tersebut.
“Jangan hanya melihat nama besar lembaganya, tetapi lihat juga kualitas guru-gurunya dan nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya,” pungkasnya. ***