Sudarsono Fasilitasi Aspirasi Anak Muda, Soroti Lingkungan dan Infrastruktur Semarang

Alan Henry
25 Apr 2026 11:02
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Aspirasi generasi muda terkait berbagai persoalan perkotaan di Kota Semarang mendapat ruang dalam forum diskusi bertajuk Make & Hope yang digelar Komunitas Transformasi Kota (Kotta), Jumat (24/2/2026). Kegiatan ini difasilitasi Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Jawa Tengah, Sudarsono.

Acara yang berlangsung di salah satu kafe di Semarang tersebut diikuti ratusan peserta dari kalangan generasi Z, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda. Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai isu yang diangkat, mulai dari infrastruktur, tata ruang, hingga persoalan lingkungan seperti banjir dan sampah.

Salah satu peserta, Bima Arya, menyoroti kondisi kebersihan lingkungan, pencemaran sungai, serta minimnya ruang terbuka hijau di Kota Semarang. Ia menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Menanggapi hal itu, Sudarsono menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mendorong program lingkungan bertajuk Gerakan Indonesia ASRI yang digagas di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Program ini dijalankan pemerintah pusat, provinsi, dan kota. Kami mengajak semua pihak, termasuk generasi muda, untuk ikut terlibat, seperti ikut bersih-bersih sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta menjaga lingkungan bersama-sama,” ujarnya.

Program tersebut mencakup pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, penguatan konservasi lingkungan, hingga penataan ruang publik agar lebih hijau dan nyaman. Selain itu, pemerintah juga mendorong pembangunan fasilitas pengolahan sampah seperti TPS 3R di tingkat desa dan kelurahan.

Lebih lanjut, Sudarsono menyebut pengolahan sampah menjadi energi juga tengah diupayakan, termasuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.

“Pemerintah juga mengupayakan pengolahan sampah menjadi energi. Tumpukan sampah akan diolah menjadi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Persoalan banjir juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Riski, salah satu mahasiswa peserta, menyoroti kondisi banjir yang kerap terjadi di pusat kota saat hujan deras serta ancaman rob di wilayah pesisir.

Menanggapi hal itu, Sudarsono mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan penanganan drainase dan pengelolaan sungai.

“Saluran air harus rutin dibersihkan, sungai perlu dikeruk, dan pembangunan di hulu harus memperhatikan aspek lingkungan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall di sepanjang Pantura Jawa sebagai solusi jangka panjang menghadapi rob.

“Kita juga harus memperkuat penanaman mangrove dan menjaga ekosistem pesisir untuk menahan abrasi dan mengurangi dampak rob,” tambahnya.

Selain isu lingkungan, perhatian terhadap fasilitas publik juga disampaikan peserta. Erika Sinta, pelajar SMA, menyoroti masih kurangnya kepatuhan terhadap fasilitas pejalan kaki, khususnya guiding block bagi penyandang disabilitas.

Menanggapi hal tersebut, Sudarsono menegaskan pentingnya pemenuhan hak pejalan kaki.

“Hak pejalan kaki harus dijamin melalui fasilitas yang aman dan layak, seperti trotoar, tempat penyeberangan, dan guiding block yang tidak boleh disalahgunakan,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk aktif terlibat dalam pembangunan daerah, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari solusi.

“Anak muda jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus ikut terlibat dalam pembangunan. Sampaikan ide, kritik, dan masukan agar Kota Semarang semakin hebat,” pungkasnya.

Melalui forum ini, diharapkan aspirasi generasi muda dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat perkotaan. ***