LINKK Semar Latih Disabilitas Hadapi Bencana, Tekankan Kemandirian Saat Darurat

Alan Henry
16 Apr 2026 21:56
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana terus dilakukan di Kota Semarang, termasuk bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, LINKK Semar menggelar pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana yang inklusif.

Kegiatan ini digelar sebagai respons atas tingginya potensi bencana di Kota Semarang, sehingga diperlukan langkah antisipatif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, menegaskan bahwa pemahaman mitigasi bencana menjadi hal penting, khususnya bagi penyandang disabilitas.

“Disabilitas dalam menghadapi bencana minimal bisa menyelamatkan dirinya secara mandiri sebelum bantuan datang untuk menolong dan menyelamatkannya,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi penanganan bencana secara langsung. Simulasi ini dirancang untuk memberikan gambaran nyata tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

Ketua LINKK Semar, Fita, menjelaskan bahwa organisasinya berperan sebagai wadah kolaborasi untuk menciptakan sistem penanggulangan bencana yang inklusif dan berkeadilan.

“LINKK Semar menjadi jembatan antara pemerintah, komunitas disabilitas, relawan, dan masyarakat umum dalam upaya mitigasi hingga pemulihan pascabencana yang ramah disabilitas,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian dan Penanggulangan Bencana LINKK Semar, Wishnu Pratomo, memberikan pemaparan terkait jenis-jenis bencana, tanda-tandanya, serta langkah penanganan yang sesuai dengan ragam disabilitas.

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi bencana yang melibatkan peserta dalam berbagai peran, mulai dari korban, tim evakuasi, pengelola pengungsian, pusat data dan informasi, hingga dapur umum.

Peserta diberikan pemahaman teknis mengenai cara mengevakuasi penyandang disabilitas fisik maupun netra, termasuk tantangan yang mungkin dihadapi di lapangan. Simulasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses evakuasi hingga distribusi logistik di lokasi pengungsian.

Tim dapur umum juga dilibatkan dalam menyiapkan makanan, baik untuk simulasi distribusi bantuan maupun konsumsi peserta, sehingga suasana pelatihan mendekati kondisi nyata saat bencana.

“Di akhir simulasi, dilakukan evaluasi. Banyak peserta menyampaikan kesan dan harapannya jika situasi ini benar-benar terjadi,” ungkap Wishnu.

Kegiatan ini juga melibatkan pendamping disabilitas yang berperan penting dalam membantu proses evakuasi, mengingat mereka lebih memahami kebutuhan dan kondisi individu yang didampingi.

Pelatihan ini direncanakan akan dilaksanakan secara berkala guna meningkatkan kesiapan penyandang disabilitas dalam menghadapi bencana, sekaligus meminimalkan risiko korban jiwa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain anggota Komisi D DPRD Kota Semarang Maftukhah Wiwin Subiyono, Sekretaris Kecamatan Pedurungan Hendaryono, serta Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Semarang Riyanto. ***