Nilai Ekspor Jawa Tengah Naik 19,53 Persen, AS hingga Jepang Jadi Pasar Utama

Alan Henry
2 Jun 2026 19:05
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Kinerja ekspor Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat nilai ekspor kumulatif mencapai 4,57 miliar dolar AS atau meningkat 19,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengatakan peningkatan ekspor tersebut ditopang oleh sektor industri pengolahan yang masih menjadi kontributor utama perdagangan luar negeri Jawa Tengah.

“Secara nilai, ekspor kumulatif Jawa Tengah pada Januari–April 2026 mencapai 4.567,32 juta dolar AS atau meningkat 19,53 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Ali Said saat menyampaikan Arah Pergerakan Inflasi Jawa Tengah Terkini melalui kanal resmi BPS Jateng, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, kenaikan nilai ekspor secara kumulatif didorong sektor industri pengolahan yang tumbuh 16,39 persen. Adapun negara tujuan utama ekspor Jawa Tengah masih didominasi Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan.

Secara tahunan (year on year), nilai ekspor Jawa Tengah pada April 2026 tercatat sebesar 1,38 miliar dolar AS atau naik 65,73 persen dibandingkan April 2025. Sementara ekspor nonmigas mencapai 1,27 miliar dolar AS atau meningkat 58,80 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain mencatat pertumbuhan ekspor, Jawa Tengah juga mengalami inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,23 persen pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,03 persen.

“Dengan inflasi year on year sebesar 2,85 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,19 persen,” kata Ali.

Ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi Mei 2026 dengan andil 0,07 persen. Kenaikan harga cabai dan bawang akibat faktor cuaca menjadi pemicu utama.

Lima komoditas penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026 adalah cabai merah dengan andil 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen, cabai rawit 0,05 persen, telepon seluler 0,04 persen, dan minyak goreng 0,03 persen.

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 117,39 atau naik 2,16 persen dibanding April 2026 yang berada di angka 114,90.

Ali menjelaskan, kenaikan NTP dipicu meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,58 persen menjadi 152,85, lebih tinggi dibanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,41 persen menjadi 130,21.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani antara lain gabah, bawang merah, jagung, cabai rawit, dan sapi potong,” jelasnya.

Sementara komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani adalah bawang merah, bakalan sapi, cabai merah, sawi hijau, dan cabai rawit.
Menurut Ali, Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kenaikan NTP bersama Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan DI Yogyakarta.

Di sektor pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Tengah hingga April 2026 tercatat sebanyak 2.671 orang. Sebagian besar wisatawan masuk melalui Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebanyak 2.616 kunjungan, sedangkan melalui Bandara Adi Soemarmo Solo sebanyak 55 kunjungan.

“Jumlah kunjungan wisman pada April 2026 naik 25,46 persen dibanding Maret 2026 dan meningkat 399,25 persen dibanding April 2025,” ungkap Ali.

Lima negara asal wisatawan mancanegara terbanyak yang berkunjung ke Jawa Tengah yakni Tiongkok, Malaysia, Singapura, India, dan Thailand.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Jawa Tengah selama Januari–April 2026 mencapai 56,49 juta perjalanan atau meningkat 2,90 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. ***