Jelang Muktamar ke-35 NU, Kritik dari Semarang Menguatkan Nama Gus Yusuf Chudlori

redaksi
22 Agu 2026 11:25
4 menit membaca

AKSARKINI.COM – Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) semakin menghangat. Sejumlah kiai dan kader NU di Jawa Tengah mulai menyuarakan pentingnya kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan jam’iyah di tengah persaingan menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.

Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama untuk menentukan arah kepemimpinan dan program organisasi lima tahun ke depan.

Di tengah dinamika tersebut, sejumlah kiai sepuh dan kader muda NU Jawa Tengah menggelar pertemuan terbatas di Hotel Gracia, Kota Semarang, Jumat (21/8/2026) malam.

Pertemuan itu membahas situasi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU sekaligus menyuarakan pentingnya menjaga suasana kondusif agar proses pemilihan kepemimpinan NU berjalan sesuai prinsip musyawarah dan tradisi kepesantrenan.

Kiai di Semarang Soroti Dinamika Elite PBNU

Pengasuh Pondok Pesantren Bareng, Jekulo, Kudus, KH Ahmad Badawi Basyir, yang hadir dalam pertemuan tersebut, menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika politik organisasi menjelang Muktamar.

Menurutnya, elite organisasi seharusnya mampu menciptakan suasana yang teduh sehingga para peserta Muktamar dapat menentukan pilihan secara jernih.

“Kondisi yang makin memanas ini justru disulut oleh elit pengurus PBNU saat ini yang harusnya bisa memberikan ruang dan suasana teduh,” ungkap Kiai Badawi.

Ia juga menyoroti pertemuan sejumlah kiai sepuh di kantor PBNU pada Kamis (20/8/2026). Menurut Badawi, forum tersebut perlu dilihat secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi adanya kepentingan tertentu menjelang Muktamar.

“Itu jelas politisasi yang makin memperparah dan memperjelas konflik antar elit PBNU,” tandasnya.

Kiai Badawi menilai dinamika yang berkembang menjelang Muktamar perlu disikapi dengan mengedepankan kepentingan jam’iyah dan menjaga keutuhan warga Nahdliyin.

Persaingan Ketua Umum PBNU Makin Menarik Perhatian

Persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 menjadi salah satu perhatian utama menjelang Muktamar ke-35 NU.

Sejumlah nama telah muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, termasuk KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Selain itu, terdapat sejumlah nama lain yang juga disebut dalam bursa kandidat.

Gus Yusuf sendiri telah menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Pencalonannya memperoleh dukungan dari 23 PCNU se-Jawa Tengah melalui agenda Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah yang digelar di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, pada 18 Juli 2026.

Dukungan tersebut membuat nama Gus Yusuf menjadi salah satu figur yang cukup diperhitungkan dalam dinamika menjelang Muktamar.

Gus Yusuf Dinilai Bisa Menjadi Jalan Tengah

Di tengah persaingan sejumlah kelompok dan figur, KH Ahmad Badawi Basyir mendorong para muktamirin dari tingkat wilayah maupun cabang untuk menentukan pilihan berdasarkan kepentingan organisasi.

Menurutnya, pemilihan pemimpin NU tidak semestinya hanya didasarkan pada kekuatan dukungan atau manuver politik, tetapi harus mempertimbangkan kemampuan calon menjaga persatuan dan keberlanjutan khidmah NU.

Ketika ditanya mengenai sosok yang dinilai layak memimpin PBNU periode 2026-2031, Kiai Badawi menyebut nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

“Pastinya, semua calon baik menurut tim masing-masing. Namun, yang menurut saya insya Allah diridai oleh Allah, diridai para muassis (pendiri), dan sedikit daya tolaknya di tengah-tengah warga NU adalah Yusuf yang ada Chudlorinya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dorongan dari sebagian kalangan NU di Jawa Tengah agar Gus Yusuf dipertimbangkan sebagai figur alternatif dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Muktamar ke-35 NU Diharapkan Tetap Teduh

Muktamar ke-35 NU akan menjadi forum penting bagi seluruh pengurus dan peserta dari berbagai wilayah serta cabang untuk menentukan arah organisasi lima tahun mendatang.

Panitia Muktamar telah memastikan agenda akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Persiapan dari sisi akomodasi, keamanan hingga fasilitas peserta terus dilakukan menjelang pelaksanaan.

Di tengah menguatnya persaingan kandidat Ketua Umum PBNU, harapan agar Muktamar berlangsung jujur, adil, dan mengedepankan persatuan menjadi pesan yang terus muncul dari berbagai kalangan.

Bagi kalangan yang mendukung Gus Yusuf, munculnya dukungan dari sejumlah PCNU Jawa Tengah dapat menjadi modal penting dalam kontestasi tersebut. Namun, keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme Muktamar sesuai aturan dan tata tertib organisasi.

Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, perhatian warga Nahdliyin kini tertuju pada bagaimana proses pemilihan kepemimpinan akan berlangsung serta siapa yang akhirnya memperoleh mandat untuk memimpin PBNU periode 2026-2031.(**)