Ekonom Ungkap Tantangan Motor Listrik Nasional: Rantai Pasok hingga Pembiayaan

redaksi
16 Agu 2026 12:35
5 menit membaca

AKSARAKINI.COM — Program Motor Listrik Nasional (Molinas) yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki modal awal untuk membangun industri kendaraan listrik nasional. Namun, pengembangan ekosistem motor listrik masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rantai pasok, penguasaan teknologi, permintaan konsumen, hingga pembiayaan.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede mengatakan Indonesia memiliki kekuatan besar dari sisi hulu, terutama karena ketersediaan bahan baku dan perkembangan investasi hilirisasi.

Dalam peluncuran Molinas, pemerintah menyebut Indonesia memiliki sekitar 46% cadangan nikel dunia. Komoditas tersebut menjadi salah satu bahan penting dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Investasi hilirisasi juga menunjukkan perkembangan signifikan. Sepanjang semester I/2026, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun, dengan investasi pada sektor nikel sekitar Rp71 triliun.

Meski demikian, Josua menilai besarnya investasi hilirisasi belum otomatis menunjukkan kemandirian teknologi Indonesia. Pasalnya, sekitar 70,9% investasi hilirisasi masih berasal dari penanaman modal asing (PMA).

Rantai Pasok Motor Listrik Masih Perlu Diperkuat

Menurut Josua, perkembangan industri pengolahan mulai memberikan dukungan terhadap pengembangan Motor Listrik Nasional. Namun, masih terdapat sejumlah persoalan pada kapasitas pemasok, kualitas produksi, ketersediaan tenaga kerja, hingga waktu pengiriman komponen.

Pengembangan industri motor listrik, kata dia, tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan perakitan kendaraan. Seluruh rantai pasok harus dikembangkan secara bersamaan agar industri nasional memiliki fondasi yang kuat.

“Persoalannya bukan kekurangan potensi pasar, melainkan bagaimana mengubah potensi menjadi permintaan nyata. Harga awal, pembiayaan, kepastian nilai jual kembali, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, umur dan jaminan baterai serta kemudahan memperoleh energi akan menentukan penerimaan masyarakat,” ujar Josua kepada Bisnis, Jumat (14/8/2026).

Populasi Motor Besar, Adopsi Motor Listrik Masih Rendah

Josua menilai tantangan terbesar Molinas justru berada di sisi hilir atau permintaan konsumen.

Indonesia memiliki sekitar 140 juta sepeda motor, sementara pembelian sepeda motor baru berada di kisaran 6 juta hingga 7 juta unit per tahun. Di tengah besarnya pasar tersebut, penjualan motor listrik baru sekitar 60.000 unit.

Data tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan motor listrik di Indonesia masih sangat besar. Namun, tingkat adopsinya masih relatif rendah dibandingkan potensi pasar sepeda motor nasional.

Menurut Josua, bertambahnya jumlah merek motor listrik juga belum otomatis memperkuat industri dalam negeri. Pertumbuhan tersebut harus diikuti dengan pendalaman rantai pasok, penguasaan teknologi, pengembangan pemasok lokal, penguatan layanan purnajual, serta standardisasi komponen.

“Indonesia jangan sampai memiliki banyak merek motor listrik tetapi masing-masing masih bergantung pada komponen utama, teknologi, atau pemasok dari luar negeri,” katanya.

Ia menilai persaingan antarprodusen tetap diperlukan untuk menciptakan inovasi dan pilihan bagi konsumen. Namun, persaingan tersebut perlu disertai persyaratan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pengembangan pemasok lokal, transfer teknologi, serta kemampuan ekspor.

Pembiayaan Jadi Kunci Mendorong Permintaan

Dari sisi kebijakan, Josua mengatakan program Molinas sebaiknya tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan penjualan motor listrik, tetapi juga membangun basis industri kendaraan listrik nasional.

Salah satu cara untuk meningkatkan permintaan adalah menyediakan skema pembiayaan yang lebih menarik bagi konsumen.

Beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan antara lain bunga pembiayaan lebih rendah, tenor lebih panjang, uang muka yang lebih ringan, hingga skema tukar tambah.

Namun, Josua mengingatkan agar risiko pembiayaan tidak sepenuhnya dibebankan kepada sektor perbankan.

Menurutnya, pemerintah dapat mempertimbangkan skema penjaminan atau pembagian risiko untuk menciptakan ruang pembiayaan yang lebih luas sekaligus menjaga kesehatan industri keuangan.

Komponen Teknologi Tinggi Perlu Diproduksi di Dalam Negeri

Di sisi produksi, pemerintah juga dinilai perlu meningkatkan kualitas TKDN. Fokusnya bukan sekadar memenuhi persentase kandungan lokal, tetapi meningkatkan penguasaan komponen yang memiliki nilai teknologi tinggi.

Beberapa komponen strategis yang perlu dikembangkan di dalam negeri antara lain sel dan paket baterai, motor penggerak, sistem pengendali tenaga, perangkat elektronik, perangkat lunak, serta sistem keselamatan kendaraan.

Selain itu, standardisasi juga menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem motor listrik.

Standardisasi baterai, sistem pengisian energi, pertukaran komponen, jaminan baterai, hingga pengelolaan baterai bekas diperlukan agar industri tidak berkembang secara terfragmentasi.

Dengan standar yang lebih terintegrasi, konsumen diharapkan tidak menghadapi kesulitan ketika membutuhkan pengisian daya, penggantian komponen, maupun layanan purnajual.

UMKM Pemasok Komponen Perlu Mendapat Pembiayaan

Josua juga menyoroti pentingnya pembiayaan bagi pemasok komponen, termasuk usaha kecil yang berada pada rantai pasok tingkat kedua dan ketiga.

Menurutnya, pengembangan industri motor listrik nasional tidak akan optimal jika hanya perusahaan besar yang mendapatkan akses pembiayaan.

Pemerintah dapat mendorong lembaga keuangan untuk memperluas pembiayaan kepada pemasok komponen dengan tetap memperhatikan aspek kelayakan usaha dan risiko kredit.

Di sisi lain, pengadaan oleh pemerintah, BUMN, maupun perusahaan besar dapat menjadi anchor market atau pasar awal untuk membantu industri mencapai skala ekonomi.

Kebijakan tersebut tetap perlu disertai persyaratan mengenai kualitas produk, kandungan lokal, dan harga yang kompetitif agar tidak sekadar menciptakan permintaan tanpa meningkatkan daya saing industri.

Keberhasilan Molinas Tak Hanya Diukur dari Penjualan

Menurut Josua, keberhasilan Program Motor Listrik Nasional seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak motor listrik yang terjual atau berapa banyak merek yang masuk ke pasar Indonesia.

Indikator yang lebih penting adalah seberapa besar nilai tambah yang tercipta di dalam negeri, peningkatan kapasitas pemasok lokal, penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi, serta kemampuan Indonesia menembus pasar ekspor.

Indonesia juga diharapkan tidak berhenti sebagai pasar kendaraan listrik, tetapi mampu menjadi basis produksi kendaraan, komponen, dan teknologi motor listrik.

Dengan demikian, Molinas dapat menjadi instrumen untuk memperkuat industri nasional sekaligus mendorong transformasi Indonesia dari konsumen menjadi pemain dalam rantai pasok kendaraan listrik global. (**)