Universitas Binus @Semarang pamerkan 10 karya Mahasiswa Program Studi Smart Industrial Engineering bertema Smart City dan Smart Factory dalam mata kuliah Additive and Manufacturing Process. (dok Alan Henry)AKSARAKINI.COM – Mahasiswa Program Studi Smart Industrial Engineering Binus @Semarang memamerkan 10 karya diorama bertema Smart City dan Smart Factory dalam mata kuliah Additive and Manufacturing Process. Seluruh karya dibuat menggunakan teknologi 3D printing dan dirancang untuk menjawab tantangan industri 4.0 melalui penerapan Internet of Things (IoT), Arduino, hingga kecerdasan buatan (AI).
Dosen Smart Industrial Engineering Binus @Semarang, Kumara Pinasthika Dharaka, menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis teknologi yang mendorong mahasiswa menciptakan solusi inovatif yang dapat diterapkan di dunia nyata.
“Mahasiswa membuat diorama atau miniatur bertemakan Smart Factory dan Smart City. Mereka menggabungkan teknologi seperti Arduino, IoT, hingga AI untuk menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujarnya.
Sebanyak 10 kelompok mahasiswa terlibat dalam proyek tersebut, terdiri dari lima kelompok Smart Factory dan lima kelompok Smart City. Proses pengerjaan dimulai sejak awal semester genap sekitar Februari hingga Juni 2026.
Menurut Kumara, seluruh miniatur dicetak menggunakan fasilitas mesin 3D printing yang tersedia di laboratorium Teknik Industri Binus Semarang.
“Output yang diharapkan bukan sekadar miniatur. Ini merupakan prototipe yang nantinya bisa dikembangkan dan diaplikasikan ke masyarakat luas maupun dunia industri,” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Smart Industrial Engineering Binus @Semarang, Taufik, menjelaskan bahwa proyek tersebut mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, mulai dari desain produk, manufaktur, elektronika, pemrograman, hingga ergonomi.
“Mahasiswa belajar mulai dari mengembangkan ide, mendesain produk, mencetak dengan teknologi 3D printing, membuat sistem kontrol berbasis IoT, sampai melakukan evaluasi desain berdasarkan pendekatan engineering,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan pembelajaran yang diterapkan berbasis Project Based Learning (PBL), sehingga mahasiswa didorong untuk belajar secara mandiri dan lintas disiplin ilmu.
“Kalau mereka membutuhkan ilmu elektronika atau programming yang lebih dalam, mereka bisa belajar sendiri atau berdiskusi dengan dosen dari program studi lain. Kami mendorong mahasiswa untuk berpikir multidisiplin,” katanya.
Taufik mengungkapkan tema besar diorama ditentukan oleh program studi, sementara konsep dan implementasi masing-masing proyek dikembangkan oleh mahasiswa. Dari 10 karya yang dipamerkan, nantinya akan dipilih tiga karya terbaik untuk mengikuti Pameran Produk Inovasi (PPI Jateng) 2026 di kawasan PRPP sebagai delegasi BRIDA Kota Semarang.
Beberapa karya yang dipamerkan antara lain Smart Parking System, Smart Greenhouse, Smart Logistics, Smart Irrigation System, hingga Smart Loading Dock.

Smart Loading Dock
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Smart Loading Dock yang dibuat oleh tim mahasiswa beranggotakan Anna Valencia Natasha Susanto, Nichollas Nathaniel, Naufal Mahendra.
Anna menjelaskan bahwa konsep yang diusung merupakan simulasi pelabuhan pintar yang mengintegrasikan proses bongkar muat barang secara lebih efisien dan terpantau melalui sistem digital.
“Temanya Smart Loading Dock. Ada truk yang masuk melalui gate, kemudian barang masuk ke conveyor menuju warehouse untuk proses penyortiran. Setelah itu barang akan didistribusikan ke kapal menggunakan forklift kontainer atau STS crane,” jelas Anna.
Menurutnya, proyek tersebut tidak secara spesifik mengacu pada pelabuhan tertentu, melainkan berfokus pada efisiensi sistem logistik melalui otomatisasi dan digitalisasi.
“Kami berpikir bagaimana proses logistik bisa lebih efisien dengan sistem kontrol yang lebih baik. Karena itu kami membuat control center yang dapat memantau seluruh aktivitas di area pelabuhan,” katanya.
Proses pengerjaan proyek dilakukan selama kurang dari dua bulan oleh tiga mahasiswa. Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah integrasi sistem IoT dan perangkat pengendali berbasis joystick.
“Yang paling sulit dari sisi IoT. Kadang ada kendala di software, hardware, atau kabel yang membuat sistem tidak berjalan sesuai yang diharapkan,” ujar Anna.
Sementara Nichollas menambahkan tantangan lain adalah proses perancangan model menggunakan teknologi 3D printing.
“Kami mendesain semuanya dari nol. Mulai riset ukuran aslinya, menentukan skala miniatur, hingga memastikan struktur tetap kuat meskipun materialnya hanya menggunakan filamen plastik hasil cetak 3D printing,” katanya.
Meski masih berupa prototipe, ketiga mahasiswa tersebut berharap konsep Smart Loading Dock dapat menjadi inspirasi pengembangan sistem logistik pelabuhan yang lebih modern dan efisien di masa depan.
“Kalau diterapkan di dunia nyata, seluruh proses mulai barang masuk, disortir, diproses di warehouse hingga masuk ke kapal bisa lebih cepat, lebih teratur, dan lebih mudah dipantau,” pungkasnya. ***