Dari Beras Sisa Kondangan hingga Wisuda Bersama, Pasutri Ini Raih Gelar Doktor dan Magister

redaksi
24 Agu 2026 14:41
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM — Perjuangan panjang pasangan suami istri Nasikhin dan Baiti Al Ami akhirnya berbuah manis. Keduanya berhasil menuntaskan pendidikan tinggi dan menjalani prosesi wisuda bersama di UIN Walisongo Semarang, Sabtu (22/8/2026).

Bukan sekadar wisuda bersama, pasangan ini juga menorehkan prestasi akademik membanggakan. Nasikhin dikukuhkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor (S-3) sekaligus Peneliti Disertasi Terbaik. Sementara sang istri, Baiti Al Ami, berhasil menyelesaikan pendidikan Magister (S-2) Pendidikan Agama Islam hanya dalam tiga semester.

Bagi Nasikhin, capaian tersebut sekaligus melengkapi perjalanan akademiknya yang luar biasa. Sejak menempuh pendidikan S-1 pada 2021, kemudian S-2 pada 2022, hingga menyelesaikan S-3 pada 2026, ia konsisten meraih predikat sebagai lulusan terbaik UIN Walisongo.

Namun, keberhasilan tersebut tidak diraih dengan mudah. Di balik toga dan penghargaan yang diterima di panggung wisuda, tersimpan kisah perjuangan ekonomi yang penuh keterbatasan.

Pada awal pernikahan, Nasikhin dan Baiti pernah menjalani kehidupan dengan kondisi serba terbatas. Keduanya sempat mengonsumsi beras berkutu yang merupakan sisa hadiah dari acara kondangan.

Mereka juga beberapa kali berpindah tempat tinggal dan harus bertahan dengan penghasilan sebagai guru honorer yang saat itu hanya sekitar Rp700 ribu per bulan.

Kondisi tersebut tidak membuat keduanya menyerah. Justru keterbatasan menjadi salah satu alasan bagi mereka untuk terus berjuang menyelesaikan pendidikan.

“Kami memegang prinsip bahwa menikah dan menuntut ilmu adalah ibadah. Kami yakin Allah memberikan kemudahan bagi orang yang sabar,” ungkap Nasikhin.

Prinsip tersebut menjadi pegangan keduanya dalam menjalani kehidupan rumah tangga sekaligus membangun masa depan melalui pendidikan.

Perjuangan serupa juga dijalani Baiti ketika menempuh pendidikan S-2 Pendidikan Agama Islam.

Di tengah kesibukan kuliah, ia harus membagi waktu dengan mengasuh putri mereka yang masih berada pada masa golden age.

Bagi Baiti, kondisi tersebut bukan menjadi penghalang untuk menyelesaikan studi. Dengan dukungan suami dan lingkungan kampus yang dinilai inklusif, ia mampu menjalankan peran sebagai ibu sekaligus mahasiswa.

Pengalaman mengasuh anak bahkan kemudian menjadi bagian dari perjalanan akademiknya. Pengalaman tersebut diangkat Baiti sebagai topik penelitian tesis hingga akhirnya ia menyelesaikan studi S-2 dalam tiga semester dengan predikat memuaskan.

Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan dapat menjadi support system penting bagi mahasiswa yang menjalani peran ganda.

Sementara itu, perjalanan akademik Nasikhin di jenjang doktoral juga diwarnai aktivitas penelitian dan publikasi ilmiah.

Selama menempuh studi S-3, ia aktif menulis sebanyak 12 naskah jurnal bereputasi yang terindeks Scopus. Ia juga terlibat dalam riset kolaboratif berskala internasional di kawasan Asia Tenggara.

Capaian tersebut melengkapi penghargaan yang diterimanya sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor sekaligus Peneliti Disertasi Terbaik.

Bagi Nasikhin dan Baiti, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi bukan sekadar pencapaian pribadi. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus memberikan manfaat melalui ilmu yang telah diperoleh.

Wisuda bersama di UIN Walisongo Semarang pun menjadi simbol perjalanan panjang keduanya—dari kehidupan yang penuh keterbatasan hingga mampu berdiri bersama di panggung akademik.

Bagi pasangan ini, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, gelar akademik yang diraih menjadi awal untuk memperluas pengabdian dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat. (**)