Panel Surya Hemat Biaya Listrik Tambak Udang hingga 50 Persen, Dorong Budidaya Berkelanjutan

redaksi
2 Agu 2026 11:34
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Pemanfaatan panel surya mulai menunjukkan potensi besar dalam menekan biaya operasional budidaya tambak udang di Indonesia. Hasil uji coba penggunaan energi surya menunjukkan konsumsi listrik dari jaringan PLN dapat dihemat hingga sekitar 42–50 persen.

Inovasi energi terbarukan tersebut dikembangkan PT Sustainability & Resilience (su-re.co) bersama startup teknologi akuakultur Crustea melalui program Aquaculture for Climate Resilience.

Program ini bertujuan memperluas pemanfaatan energi bersih di sektor akuakultur, meningkatkan efisiensi biaya produksi, sekaligus memperkuat ketahanan petambak dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Pengembangan teknologi panel surya untuk tambak dibahas dalam kegiatan Pentahelix Dialogue bertema Mainstreaming Renewable Energy yang digelar di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Peneliti PT Sustainability & Resilience (su-re.co), Naafi Lathifah, mengatakan kerja sama dengan Crustea tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi energi surya.

Program tersebut juga mencakup pelatihan bagi petambak, penyusunan kajian, serta pengembangan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ekosistem budidaya perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

“Hasil sementara menunjukkan penggunaan panel surya mampu menghemat konsumsi listrik PLN sekitar 42 persen hingga 50 persen,” ujar Naafi dalam keterangan pers, Sabtu (1/8/2026).

Uji Coba Panel Surya Tambak Dilakukan di Bali

Teknologi panel surya telah diuji coba pada tambak udang di Gianyar, Bali. Sistem yang digunakan merupakan panel surya hybrid yang tetap terhubung dengan jaringan listrik PLN.

Melalui sistem tersebut, energi dari panel surya dapat digunakan untuk membantu mengoperasikan aerator tambak sekitar 10 jam setiap hari.

Aerator merupakan salah satu peralatan penting dalam budidaya udang karena berfungsi menjaga kadar oksigen di dalam air. Penggunaan listrik untuk mengoperasikan perangkat tersebut menjadi salah satu komponen biaya yang cukup besar bagi petambak.

Meski penerapan awal belum menunjukkan peningkatan produksi secara signifikan karena baru digunakan pada satu unit aerator, hasil penghematan energi dinilai cukup menjanjikan.

Program tersebut selanjutnya akan diperluas ke Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan target penerapan pada sedikitnya 10 lokasi budidaya.

Energi Bersih Tingkatkan Daya Saing Udang Indonesia

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Saut P. Hutagalung, menilai penerapan budidaya perikanan yang berkelanjutan dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia, terutama di pasar ekspor.

Pemanfaatan energi terbarukan dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk menciptakan proses produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Romi Novriadi, mengatakan akses terhadap energi dan inovasi teknologi menjadi kebutuhan penting bagi petambak.

Menurutnya, selain tingginya harga pakan, biaya energi juga menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi untuk meningkatkan efisiensi usaha budidaya.

Sebagian Besar Tambak Indonesia Masih Tradisional

Data Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan luas tambak di Indonesia mencapai sekitar 300 ribu hektare.

Namun, hanya sekitar 3 persen yang dikelola secara intensif. Sebanyak 15 persen menggunakan sistem semiintensif, sedangkan sebagian besar lainnya masih menerapkan pola budidaya tradisional.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbuka peluang besar untuk modernisasi sektor akuakultur melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan sistem budidaya yang lebih efisien.

Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Samsul Widodo, mengatakan program energi terbarukan di sektor akuakultur dapat didukung melalui pemanfaatan dana desa maupun kolaborasi dengan sektor swasta.

Dukungan juga dapat dilakukan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Program Aquaculture for Climate Resilience ditargetkan melibatkan sedikitnya 250 petambak udang dan penyuluh perikanan di Lombok dan Sumbawa.

Selain memperkenalkan Eco-Aerator bertenaga surya, program tersebut juga akan mengembangkan sistem pemantauan tambak berbasis Internet of Things (IoT).

Pemanfaatan panel surya dan teknologi digital diharapkan mampu meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, menekan biaya operasional, serta memperkuat daya saing budidaya udang Indonesia di pasar nasional maupun global. (**)