Perayaan Kimsin Tay Kak Sie ke-166 Perkuat Harmoni dan Toleransi di Kota Semarang

redaksi
16 Jun 2026 19:53
4 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Perayaan Kedatangan Kimsin Yang Suci (YS) Poo Seng Tay Tee ke-166 di Klenteng Tay Kak Sie tidak hanya menjadi agenda keagamaan dan budaya bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi simbol kuat kerukunan dan toleransi yang selama ini tumbuh di Kota Semarang.

Melalui Pentas Panggung Malam Kesenian yang digelar dalam rangkaian perayaan tersebut, Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian budaya sekaligus menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat. Kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari satu setengah abad itu dinilai menjadi bagian penting dari identitas Kota Semarang sebagai kota multikultural.

Mewakili Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Klenteng Besar Tay Kak Sie, panitia penyelenggara, relawan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan perayaan yang berlangsung pada 14–16 Juni 2026 tersebut.

Menurut Iswar, keberlangsungan tradisi selama 166 tahun menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.

“Perayaan ini bukan sekadar kegiatan keagamaan ataupun tradisi budaya. Lebih dari itu, kegiatan ini telah menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Semarang dan menjadi bukti bahwa keberagaman dapat tumbuh menjadi kekuatan yang menyatukan,” ujarnya saat menghadiri Pentas Panggung Malam Kesenian di Klenteng Tay Kak Sie, Senin (15/6/2026).

Semarang Tumbuh dari Keberagaman

Iswar mengatakan Kota Semarang sejak dahulu dikenal sebagai kota yang menjadi titik pertemuan berbagai etnis, agama, dan budaya. Kehidupan masyarakat yang plural telah membentuk karakter kota yang terbuka, toleran, dan mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari kekayaan sosial.

Dalam konteks tersebut, Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee menjadi salah satu warisan budaya yang memiliki nilai penting dalam memperkuat hubungan antarwarga. Selain menjaga tradisi leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Menurutnya, kesenian dan budaya memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi sosial yang lebih inklusif. Berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan dalam perayaan mampu menghadirkan suasana kebersamaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun golongan.

“Kesenian menjadi bahasa universal yang dapat diterima semua kalangan. Melalui seni dan budaya, masyarakat dapat saling mengenal, mempererat persaudaraan, serta memperkuat rasa memiliki terhadap Kota Semarang,” katanya.

Pelestarian Budaya Jadi Investasi Masa Depan

Pemerintah Kota Semarang memandang pelestarian budaya sebagai investasi jangka panjang yang penting bagi pembangunan daerah. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, identitas budaya dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga karakter dan keunikan sebuah kota.

Karena itu, Pemkot Semarang terus berupaya memberikan ruang bagi berbagai kegiatan budaya, tradisi masyarakat, maupun ekspresi seni yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Iswar, semakin banyak ruang yang diberikan kepada pelaku budaya dan komunitas, maka semakin besar pula peluang Kota Semarang untuk berkembang sebagai destinasi budaya dan wisata yang menarik.

“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga modal sosial untuk masa depan. Semakin hidup tradisi yang ada di masyarakat, semakin kuat identitas Kota Semarang sebagai kota budaya yang ramah bagi semua,” ujarnya.

Dorong Pariwisata dan UMKM

Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, penyelenggaraan kegiatan budaya skala besar juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung dalam berbagai rangkaian acara diyakini mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kuliner, transportasi, hingga perhotelan menjadi pihak yang turut merasakan manfaat dari meningkatnya kunjungan masyarakat selama pelaksanaan acara.
Pemerintah Kota Semarang menilai agenda budaya seperti Perayaan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Kota Semarang.

Momen Bersejarah Hubungan Semarang dan Tiongkok

Perayaan tahun ini memiliki makna khusus karena menjadi pertama kalinya Kimsin Kongco Poo Seng Tay Tee dari Zhangzhou Baijiao Ciji Ancestral Temple hadir langsung dalam rangkaian kegiatan di Semarang.
Kehadiran tersebut menjadi simbol kuat hubungan sejarah dan spiritual antara komunitas Tionghoa Semarang dengan akar budaya mereka di Tiongkok yang telah terjalin selama ratusan tahun.

Berbagai rangkaian kegiatan digelar selama tiga hari, mulai dari doa bersama, prosesi sakral keagamaan, pentas seni budaya, hingga Kirab Budaya Akbar yang menjadi puncak acara. Ribuan umat dan masyarakat umum turut ambil bagian dalam kegiatan yang terbuka untuk publik tersebut.

Melalui penyelenggaraan perayaan ini, Pemerintah Kota Semarang berharap nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan persatuan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.

“Kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakatnya mampu menjaga harmoni, merawat warisan budaya, dan membangun kehidupan yang saling menghormati,” tegas Iswar Aminuddin.

Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166 pun menjadi bukti bahwa keberagaman yang dirawat dengan baik dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun kota yang inklusif, harmonis, dan berbudaya.(**)