Pembongkaran makam oleh Tim Al Iswat di Semarang. (dok Istimewa)AKSARAKINI.COM – Berawal dari sebuah majelis zikir sederhana di Kota Semarang, kelompok Al Iswat kini dikenal luas sebagai tim yang kerap menangani pemindahan makam untuk berbagai proyek pembangunan di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Bermarkas di kawasan Ngaliyan, Semarang, Al Iswat awalnya hanya menjadi wadah berkumpul untuk membaca Al-Fatihah, istigfar, dan selawat. Dari amalan itulah nama Al Iswat lahir, yang merupakan singkatan dari tiga bacaan tersebut.
Ketua Al Iswat, Joko Yudho, mengatakan kelompoknya pada awalnya tidak memiliki nama resmi. Seiring bertambahnya jamaah, nama Al Iswat diberikan oleh ulama yang membimbing majelis tersebut.
“Awalnya hanya majelis zikir biasa. Karena jamaah semakin banyak, akhirnya diberi nama Al Iswat oleh Abah Zain Achmad,” ujarnya.
Perjalanan Al Iswat memasuki bidang pemindahan makam bermula sekitar tahun 2007 saat kawasan industri di wilayah Ngaliyan mulai berkembang. Ketika itu, ratusan makam terdampak pembangunan sehingga diperlukan proses relokasi.
Seorang ketua RW yang mengenal Joko meminta bantuan mencarikan pihak yang mampu menangani pemindahan makam. Permintaan itu kemudian disampaikan kepada para guru spiritualnya yang memberikan restu untuk menjalankan pekerjaan tersebut.
Berbekal pengalaman di bidang teknik sipil, Joko mulai menyusun perencanaan teknis dan kebutuhan anggaran. Tantangan terbesar saat itu adalah mencari tenaga yang berpengalaman dalam pembongkaran makam.
Akhirnya, ia mengajak sejumlah kerabat yang selama ini sering membantu proses pemakaman di lingkungan tempat tinggalnya. Dari sinilah proyek pemindahan sekitar 500 makam di kawasan Ngaliyan berhasil diselesaikan.
Namun, tantangan tidak hanya datang dari aspek teknis. Penolakan warga sempat muncul karena pemindahan makam dalam jumlah besar belum pernah dilakukan di Kota Semarang.
Bersama tokoh masyarakat, perangkat kelurahan, dan Dinas Pemakaman, Al Iswat melakukan sosialisasi kepada warga. Dalam berbagai pertemuan, para ulama menjelaskan bahwa pemindahan makam diperbolehkan selama dilakukan untuk kemaslahatan bersama.
Setelah mendapatkan persetujuan masyarakat, proses pemindahan akhirnya berjalan lancar. Keberhasilan tersebut membuat Al Iswat mulai dipercaya menangani berbagai proyek besar, termasuk pembangunan Jalan Tol Semarang-Solo, Tol Semarang-Batang, hingga Tol Solo-Yogyakarta.
Ritual dan Penghormatan kepada Jenazah
Joko menjelaskan, setiap proses pemindahan makam selalu diawali dengan doa bersama dan tahlil. Tim juga menggelar ritual bedah bumi selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan kepada para ahli kubur yang akan dipindahkan.
“Kami mengirim doa terlebih dahulu sebelum proses pemindahan dilakukan,” katanya.
Menurutnya, makam yang pertama kali dipindahkan biasanya adalah makam tokoh yang dihormati masyarakat atau orang pertama yang dimakamkan di lokasi tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.
Selama proses berlangsung, Al Iswat menerapkan aturan ketat kepada seluruh anggota tim. Tidak ada yang diperbolehkan mengomentari kondisi jenazah maupun mendokumentasikan proses pembongkaran secara sembarangan.
Setelah kerangka ditemukan, seluruh bagian yang ada akan dikumpulkan dalam satu kotak khusus. Kerangka kemudian dikafani ulang menggunakan tiga lapis kain kafan, diberi wewangian, serta disemprot air zam-zam sebelum dimakamkan kembali di lokasi baru.
“Itu bagian dari penghormatan kepada jenazah yang kami lakukan,” ujarnya.
Selama hampir dua dekade menangani pemindahan makam, Joko mengaku memperoleh banyak pelajaran tentang kehidupan dan kematian. Setiap makam yang dipindahkan menyimpan cerita berbeda, mulai dari makam tokoh masyarakat hingga makam yang sudah tidak diketahui lagi ahli warisnya.
Ia menilai pekerjaan tersebut bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Semua manusia pada akhirnya akan kembali ke tempat yang sama. Jabatan dan kekayaan akan ditinggalkan, yang tersisa hanya amal dan doa,” tuturnya.
Menurut Joko, tantangan paling berat justru ketika harus memindahkan jenazah yang baru beberapa bulan dimakamkan. Selain membutuhkan kesiapan mental, para pekerja juga dituntut menjaga sikap selama proses berlangsung.
Karena itu, hanya tim khusus yang ditugaskan menangani makam dengan kondisi tertentu.
Biaya dan Tim Pemindahan Makam
Dalam setiap proyek, Al Iswat melibatkan sekitar 50 orang dengan tugas yang berbeda-beda, mulai dari pendataan makam, penggalian, pengangkutan kerangka, pengkafanan ulang, hingga proses pemakaman kembali.
Joko menjelaskan biaya operasional pemindahan makam rata-rata mencapai Rp2,5 juta per makam. Anggaran tersebut mencakup seluruh kebutuhan proses pemindahan, termasuk tenaga kerja, penggalian makam baru, hingga pengangkutan jenazah.
“Perhitungannya per makam. Jadi total biaya disesuaikan dengan jumlah makam yang dipindahkan,” katanya.
Salah satu proyek terbesar yang pernah ditangani Al Iswat adalah pemindahan sekitar 1.000 makam yang berhasil diselesaikan dalam waktu lima hari. Sementara pada awal 2026, tim tersebut juga memindahkan hampir 300 makam di Kabupaten Klaten hanya dalam waktu dua hari.
Bagi Joko, pekerjaan memindahkan makam bukan sekadar bagian dari pembangunan infrastruktur. Di balik setiap proses, ada amanah dari keluarga dan masyarakat yang harus dijaga dengan penuh penghormatan.
“Banyak orang bisa menggali makam, tetapi tidak semua mau menjalani pekerjaan ini. Karena yang kami hadapi bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga kepercayaan dari keluarga yang menitipkan makam leluhurnya kepada kami,” pungkasnya. ***