Produksi Padi Jateng Tembus 6,69 Juta Ton, Luthfi Optimistis Target 10,5 Juta Ton Tercapai

redaksi
4 Sep 2026 00:24
Daerah 0
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM — Produksi padi Jawa Tengah sepanjang Januari-Agustus 2026 telah mencapai 6,69 juta ton atau sekitar 63 persen dari target 10,5 juta ton hingga akhir tahun.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi optimistis target tersebut dapat tercapai. Optimisme itu didukung panen raya kedua yang masih berlangsung dan potensi panen ketiga di sejumlah daerah.

“Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Apabila ini bisa dipertahankan maka akan bisa terpenuhi,” ujar Luthfi saat panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, Pemalang termasuk lima besar daerah penyangga produksi padi di Jawa Tengah. Untuk meningkatkan produktivitas, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan berupa traktor, combine harvester, pompa air, dan benih kepada petani.

Luthfi mengatakan pengelolaan lahan dilakukan melalui dua pendekatan, yakni optimalisasi sawah tadah hujan dengan sistem perpompaan dan perpipaan serta optimalisasi jaringan irigasi tersier pada sawah irigasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan ketersediaan air menjadi faktor penting dalam meningkatkan produksi. Sejumlah wilayah dapat melakukan dua hingga tiga kali musim tanam dan panen sesuai kondisi lahan dan air.

Melalui metode Pertanian Modern Agriculture Advance System (PMAS), produktivitas diharapkan meningkat sehingga dua kali musim tanam.

Pemprov Jateng juga menjalankan program Pilar Jateng untuk memetakan infrastruktur lahan, jaringan irigasi dan alat mesin pertanian. Data tersebut digunakan untuk menentukan bantuan dan intervensi secara lebih tepat sasaran.

Combine Harvester Tekan Biaya Petani

Bantuan alat mesin pertanian dinilai membantu petani, terutama di wilayah yang modernisasi pertaniannya masih terbatas.

Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, mengatakan bantuan combine harvester membuat petani tidak lagi terlalu bergantung pada mesin dari daerah lain.

“Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu kami kadang telat panen karena menunggu mesin. Itu juga mempengaruhi harga gabah,” ujarnya.

Dengan dukungan alat pertanian, irigasi dan benih, Pemprov Jateng berharap produktivitas terus terjaga sehingga target produksi padi 10,5 juta ton pada 2026 dapat tercapai.(**)