PDAM Semarang Gandeng PHRI, Mayoritas Hotel Mulai Kurangi Penggunaan Air Bawah Tanah

redaksi
18 Agu 2026 13:16
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang memperkuat kerja sama dengan pelaku usaha untuk mengurangi penggunaan Air Bawah Tanah (ABT). Salah satu sektor yang menjadi fokus adalah industri perhotelan.

Melalui kesepakatan bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, sebagian besar pengelola hotel di Kota Semarang disebut telah memprioritaskan penggunaan air dari jaringan PDAM dan mengurangi pemanfaatan ABT.

Direktur Umum PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Yulianto Prabowo, mengatakan kolaborasi dengan PHRI menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian lingkungan di Kota Semarang.

“Kami sudah MoU dengan PHRI. Sekarang hampir semua hotel itu sudah memaksimalkan penggunaan air PDAM dan mengurangi penggunaan ABT-nya. Kita sudah sepakat konsen bersama-sama menjaga Kota Semarang tetap lestari,” kata Yulianto, Senin (17/8/2026).

Hotel Jadikan ABT Sebagai Cadangan

Menurut Yulianto, peralihan sumber air di sektor perhotelan menunjukkan perkembangan positif. Hotel yang sebelumnya mengandalkan sumur ABT untuk mendukung operasional kini sebagian besar telah mengutamakan pasokan dari PDAM.

Ia mengatakan, hotel yang masih memiliki sumur ABT pada umumnya tidak lagi menjadikannya sebagai sumber air utama.

“Sektor perhotelan yang sudah jalan sebagian besar sudah tidak pakai ABT sebagai sumber utama. Kalaupun masih menggunakan sumur, sifatnya hanya sebagai back-up atau cadangan saja jika sewaktu-waktu terjadi gangguan teknis pada jaringan PDAM,” jelasnya.

Yulianto menilai langkah tersebut penting karena kebutuhan air di sektor perhotelan berlangsung secara terus-menerus. Karena itu, keberlanjutan pasokan air bersih sekaligus upaya menjaga lingkungan perlu berjalan beriringan.

PDAM Pastikan Pasokan Air Bersih

Untuk mendukung peralihan penggunaan ABT ke jaringan perpipaan, PDAM Tirta Moedal menyatakan terus menjaga keandalan distribusi air bersih di wilayah pelayanan Kota Semarang.

Pemeliharaan jaringan dilakukan secara rutin agar pasokan air dapat tetap berjalan dan kebutuhan pelanggan, termasuk sektor usaha, dapat terpenuhi.

Yulianto mengatakan sektor bisnis membutuhkan kepastian pasokan air karena aktivitas operasional tidak dapat berhenti.

“Industri dan bisnis kan sifatnya harus continue, tidak boleh berhenti. Tanggung jawab kami adalah memastikan kebutuhan air bersih mereka terpenuhi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Karena itu, PDAM mendorong sektor industri dan pelaku usaha lainnya untuk mengikuti langkah yang telah dilakukan sektor perhotelan melalui kerja sama dengan PHRI.

Dorong Bisnis Ramah Lingkungan

Menurut Yulianto, pelaku usaha perlu mempertimbangkan dampak lingkungan dalam memenuhi kebutuhan air. Penggunaan ABT semata-mata karena pertimbangan biaya dinilai bukan solusi jangka panjang apabila berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.

“Pelaku usaha tidak boleh hanya mengejar keuntungan dengan memanfaatkan ABT murah tetapi merusak lingkungan,” tegasnya.

PDAM Tirta Moedal berharap kolaborasi dengan PHRI dapat menjadi contoh bagi sektor usaha lainnya di Kota Semarang untuk beralih menggunakan sumber air perpipaan secara optimal.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan kebutuhan air bagi dunia usaha, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian lingkungan Kota Semarang. (**)