Karding di Hadapan Mahasiswa Undip: Jangan Cuma Kejar Ijazah, Harus Bawa Dampak

redaksi
21 Agu 2026 12:37
2 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Ketua Umum IKA Undip sekaligus Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, meminta mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menjadikan pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bekal untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Karding saat memberikan kuliah umum dalam acara Penerimaan Kembali dan Gelar Karya Mahasiswa KKN Undip Tim II Tahun Akademik 2025/2026 di Muladi Dome, Semarang, Jumat (21/8/2026).

Di hadapan ribuan mahasiswa dan sivitas akademika Undip, Karding menceritakan pengalaman ketika menjalani KKN selama tiga bulan di Desa Candi, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Berinteraksi langsung dengan masyarakat desa, menurutnya, memberikan pelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kuliah.

“Desa-desa itu adalah kampus praktik kita. Di sana kita belajar mendengar masyarakat, memimpin, dan menyatukan perbedaan dalam kehidupan nyata,” ujar Karding.

Ia menegaskan, KKN jangan hanya dipandang sebagai kewajiban akademik untuk mendapatkan nilai, sertifikat, atau memenuhi persyaratan kelulusan. Mahasiswa justru harus mampu membaca persoalan yang ditemukan di lapangan dan mencari cara agar ilmu yang dimiliki bisa memberikan solusi.

Karding juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menunggu memiliki jabatan tinggi untuk mulai berkontribusi. Menurutnya, membantu masyarakat dapat dilakukan dari hal sederhana, seperti mengajar, mendampingi pelaku UMKM, hingga membantu membuka akses permodalan.

Di tengah perkembangan teknologi, Karding menilai kemampuan analisis dan pengolahan data semakin mudah dilakukan dengan bantuan berbagai aplikasi. Namun, integritas, empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial tetap membutuhkan pengalaman langsung bersama masyarakat.

Sebanyak 9.300 mahasiswa Undip yang telah diterjunkan dalam program KKN di berbagai desa disebut Karding sebagai potensi besar untuk menghadirkan gagasan dan inovasi baru bagi daerah.

Ia pun mendorong mahasiswa membawa pengalaman KKN ke tahap berikutnya dengan menjadikannya sebagai bahan skripsi maupun penelitian. Dengan cara tersebut, persoalan yang ditemukan di desa tidak berhenti setelah program KKN selesai.

“Pengalaman di desa jangan berhenti menjadi cerita setelah KKN. Temuan dan persoalan yang ada bisa dikembangkan menjadi penelitian atau karya yang memberikan solusi bagi masyarakat,” kata Karding.

Menurutnya, keberhasilan mahasiswa bukan hanya ditentukan oleh gelar akademik yang diperoleh, tetapi juga sejauh mana ilmu tersebut mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.(**)