Sekretaris Daerah Kota Semarang periode 2026-2031, Handi Priyanto. (dok Alan Henry)AKSARAKINI.COM – Sekretaris Daerah Kota Semarang periode 2026-2031, Handi Priyanto, menceritakan perjalanan karier birokrasi yang telah ditempuhnya di berbagai daerah sebelum akhirnya dipercaya menjabat sebagai Sekda Kota Semarang.
Handi menjelaskan bahwa dirinya memulai karier sebagai pegawai negeri sipil pusat yang diperbantukan ke daerah. Penugasan pertamanya berada di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kemudian berlanjut ke Kabupaten Kendari.
“Saya statusnya dulu PNS pusat diperbantukan. Penempatan pertama saya di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Kemudian geser ke Kabupaten Kendari,” ujarnya usai pelantikan Sekda Kota Semarang, Senin (18/5/2026).
Setelah menjalani tugas di Sulawesi Tenggara, Handi melanjutkan karier di Kementerian Dalam Negeri pada Biro Kepegawaian. Selanjutnya ia bertugas di Kota Malang sebelum mengikuti seleksi Sekda Kota Semarang.
“Dari Kendari saya masuk di Depdagri di Biro Kepegawaian. Kemudian saya ke Malang. Dari Malang ke Semarang,” katanya.
Handi juga mengungkapkan dirinya lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan bukan berasal dari Kota Malang sebagaimana yang selama ini banyak diperkirakan.
“Saya kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya.
Selama berkarier di Pemerintah Kota Malang, Handi pernah menduduki sejumlah posisi strategis. Ia memulai jabatan struktural di Kota Malang pada 2012 di Satpol PP sebelum dipercaya menjabat sebagai Asisten I.
“Setelah itu Kadishub, kemudian Kepala Bakesbang, lalu pernah di staf ahli, kemudian di Kalaksa BPBD, kembali ke Dishub lagi, kemudian lima tahun terakhir di Bapenda,” jelasnya.
Dalam proses seleksi Sekda Kota Semarang 2026, Handi menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari luar lingkungan Pemerintah Kota Semarang. Saat menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, ia dikenal aktif mendorong penguatan sistem pajak daerah berbasis digital.
Sejumlah inovasi yang dikembangkannya meliputi pelayanan pajak digital, penguatan pengawasan transaksi, serta peningkatan transparansi pemungutan pajak daerah guna mencegah kebocoran pendapatan.
Di bawah kepemimpinannya, Bapenda Kota Malang berhasil meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian PAN-RB sebagai pengakuan atas transformasi pelayanan publik yang bersih, transparan, dan berorientasi pada masyarakat.
Inovasi yang dijalankan Handi juga disebut berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk melalui pengembangan layanan berbasis teknologi dan edukasi sadar pajak kepada masyarakat.
Terkait dukungan dari Pemerintah Kota Malang saat dirinya mengikuti seleksi Sekda Kota Semarang, Handi menyebut Wali Kota Malang memberikan dukungan penuh kepada ASN yang mengikuti seleksi jabatan di daerah lain.
“Pak Wali mensupport. Jadi siapapun pegawai yang ikut seleksi diberikan izin ke manapun dia daftar dan tidak pernah ada yang melarang,” tuturnya.
Kehadiran Handi sebagai figur eksternal dinilai membawa perspektif baru dalam tata kelola birokrasi Kota Semarang, meskipun proses adaptasi dengan lingkungan kerja baru tetap menjadi tantangan tersendiri.***