Kasus DBD Semarang Tinggal 4, Dinkes Ungkap Peran Wolbachia

redaksi
9 Sep 2026 22:01
3 menit membaca

AKSARAKINI.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang menunjukkan penurunan signifikan sepanjang 2026. Hingga 9 September, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat hanya empat kasus DBD.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan jumlah kasus pada 2025 yang mencapai 131 kasus. Data tersebut tercantum dalam Buku Saku Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2025.

Kepala Dinkes Kota Semarang M Abdul Hakam mengatakan penurunan kasus tersebut salah satunya berkaitan dengan penerapan program Wolbachia yang telah berlangsung selama tiga tahun di Kota Semarang.

“Turunnya drastis. Hanya empat kasus per 9 September ini,” kata Hakam saat ditemui di kantornya, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu (9/9).

Menurut Hakam, program Wolbachia memiliki efektivitas sekitar 77 persen dalam mencegah kejadian DBD. Bakteri tersebut bekerja dengan menghambat kemampuan nyamuk Aedes aegypti dalam membawa dan menularkan virus dengue.

“Ingat kita itu sudah berjuang selama tiga tahun ini dengan Wolbachia. Ternyata, Wolbachia itu 77 persen sangat bermanfaat untuk mencegah kejadian demam berdarah di Kota Semarang,” ujarnya.

Ia menjelaskan nyamuk yang membawa Wolbachia tetap dapat menggigit manusia. Namun, bakteri tersebut menghambat kemampuan nyamuk untuk menularkan virus dengue kepada orang yang digigit.

“Walaupun nyamuknya banyak, walaupun digigit, tetapi tidak sampai mengeluarkan virus dengue,” katanya.

Hakam menerangkan penularan DBD terjadi ketika nyamuk yang membawa virus dengue menggigit manusia dan memasukkan virus ke dalam tubuh. Keberadaan Wolbachia membuat proses tersebut menjadi terhambat.

“Yang menyebabkan demam berdarah itu karena ketika gigit, kemudian dia akan bertukar menghisap darah plus memasukkan virus ke dalam tubuh seseorang. Nah, ini tidak bisa karena ada bakterinya Wolbachia,” jelasnya.

Meski hasilnya cukup signifikan, penerapan Wolbachia di Kota Semarang belum menjangkau seluruh wilayah. Masih terdapat sejumlah kelurahan dan kecamatan yang dalam dua tahun terakhir belum mendapatkan program tersebut.

Dinkes menargetkan wilayah yang belum memperoleh program Wolbachia dapat diselesaikan pada tahun ini.

“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini kami akan selesaikan,” ungkap Hakam.

Di sisi lain, rendahnya kasus DBD tidak membuat pemerintah mengendurkan upaya pencegahan. Masyarakat tetap diminta menjalankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin.

Terlebih, Kota Semarang saat ini memasuki periode kemarau. Menurut Hakam, kondisi panas dapat mempercepat perkembangan nyamuk mulai dari telur, jentik hingga menjadi nyamuk dewasa.

“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” katanya.

Nyamuk Lebih Aktif Saat Cuaca Panas

Selain mempercepat perkembangan nyamuk, cuaca panas juga dapat meningkatkan durasi aktivitas nyamuk Aedes aegypti. Karena itu, masyarakat tetap perlu waspada meski kasus DBD di Kota Semarang saat ini berada pada angka rendah.

Hakam menyebut warga sering merasakan nyamuk lebih banyak ketika musim panas. Kondisi tersebut, kata dia, berkaitan dengan aktivitas nyamuk yang berlangsung lebih lama.

“Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam,” tuturnya.

Dengan demikian, keberhasilan pengendalian DBD melalui Wolbachia tetap perlu diikuti dengan upaya pencegahan dari masyarakat. PSN secara rutin menjadi bagian penting untuk menjaga agar populasi nyamuk dan risiko penularan dengue tetap terkendali. (*)