
AKSARAKINI.COM – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong untuk tidak hanya mengandalkan satu platform e-commerce sebagai penopang bisnis.
Di tengah perubahan lanskap ekonomi digital yang semakin dinamis, diversifikasi saluran pemasaran, inovasi, serta penguatan kapasitas usaha dinilai menjadi kunci agar UMKM mampu bertahan sekaligus berkembang secara berkelanjutan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Knowledge Exchange Forum bertajuk “Resilience and Resourcefulness Beyond E-Commerce Platforms” yang diselenggarakan Jakarta Hustle di Smesco Startup Hub, Gedung Smesco Jakarta, Selasa (8/7/2026).
Forum ini mempertemukan pelaku UMKM, akademisi, praktisi bisnis, komunitas kewirausahaan, hingga berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pengembangan usaha.
Kegiatan tersebut digelar sebagai respons atas semakin cepatnya transformasi digital yang mengubah pola bisnis.
Meski platform digital dan e-commerce telah membuka peluang pasar yang lebih luas bagi UMKM, pelaku usaha kini juga menghadapi berbagai tantangan baru, mulai dari ketergantungan terhadap satu platform, perubahan algoritma, meningkatnya persaingan, hingga perubahan perilaku konsumen.
Karena itu, pelaku UMKM dinilai perlu membangun strategi bisnis yang lebih adaptif dengan memperkuat kapasitas kewirausahaan, meningkatkan nilai tambah produk, serta memperluas kanal pemasaran agar tidak bergantung pada satu ekosistem digital.
Senior Lecturer in International Business University of the West of England, Amore, mengatakan hasil studi yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap satu platform digital bukan fondasi yang cukup kuat untuk menopang pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
“Melalui studi ini kami menyimpulkan bahwa ketergantungan pada satu platform saja bukanlah fondasi yang cukup kuat untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang. Harapan kami, forum ini dapat melahirkan strategi-strategi baru yang membantu UMKM tumbuh lebih tangguh melalui inovasi, penguatan sumber daya, serta perluasan jejaring,” ujarnya.
Menurut Amore, penguatan UMKM juga perlu diarahkan pada peningkatan produksi lokal serta penguatan rantai pasok berbasis sumber daya dalam negeri. Langkah tersebut dinilai penting tidak hanya untuk memperkuat daya tahan usaha, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi nasional.
“Ini bukan hanya soal ketahanan usaha, tetapi juga soal kemandirian ekonomi bangsa secara keseluruhan. Kami berharap forum ini dapat menjadi jembatan aspirasi bagi pelaku usaha kecil kepada pemerintah agar kebutuhan dan tantangan UMKM semakin diperhatikan melalui kebijakan yang berpihak kepada mereka,” katanya.
Selain memaparkan hasil penelitian, forum tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam menghadapi transformasi ekonomi digital.
Para peserta memperoleh berbagai wawasan mengenai strategi adaptasi untuk meningkatkan daya saing usaha di tengah perubahan pasar yang berlangsung cepat.
Jakarta Hustle berharap forum ini dapat memperkuat sinergi antara kalangan akademisi, dunia usaha, komunitas, serta berbagai institusi pendukung UMKM dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, Jakarta Hustle ingin mendorong lahirnya solusi konkret bagi pengembangan UMKM Indonesia.
Kemampuan membangun ketahanan usaha (business resilience) dan mengoptimalkan sumber daya secara kreatif (resourcefulness) dinilai menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki pelaku usaha agar mampu menghadapi dinamika ekonomi digital.
Penyelenggara berharap forum ini tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta mengenai strategi pengembangan usaha, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor.
Dengan demikian, UMKM Indonesia diharapkan semakin tangguh, mampu tumbuh secara berkelanjutan, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (ot/mj)