Kemeriahan Haul Sunan Kali Jaga di Penggaron Kidul. (dok Alan Henry)AKSARAKINI.COM – Tradisi Haul dan Tapak Tilas Sunan Kalijaga kembali digelar meriah di Kelurahan Penggaron Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Kegiatan tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut tahun ini dikemas lebih besar dengan menghadirkan kirab kebo, bazar UMKM, berbagai perlombaan, hingga layanan publik bagi masyarakat.
Camat Pedurungan, Nurul Hidayati, mengatakan kegiatan haul merupakan tradisi masyarakat yang telah berlangsung sejak lama sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak perjalanan Sunan Kalijaga yang diyakini pernah singgah di kawasan Penggaron.
“Haul ini sebenarnya kegiatan rutin masyarakat yang sudah berlangsung sejak lama. Pemerintah kecamatan dan kelurahan hanya memberikan dukungan agar pelaksanaannya lebih meriah dan manfaatnya lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Nurul, tahun ini kegiatan haul dikolaborasikan dengan berbagai program pelayanan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi. Di antaranya bazar UMKM, cooking class, lomba mewarnai anak, lomba tata rias, donor darah, pelayanan Samsat Keliling, hingga layanan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan dan budaya, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan publik,” katanya.
Puncak kegiatan berlangsung melalui kirab kebo yang menjadi tradisi khas dalam rangkaian Haul Sunan Kalijaga di Penggaron Timur. Kebo tersebut diarak mengelilingi wilayah setempat sebelum akhirnya disembelih sebagai bagian dari tradisi yang telah dijalankan masyarakat selama bertahun-tahun.
“Setelah kirab selesai, kebo akan disembelih dan hasilnya dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur,” jelas Nurul.

Sementara itu, Lurah Penggaron Kidul, Dian Amaliasari, mengatakan pihaknya sengaja mengemas peringatan haul tahun ini lebih besar dibandingkan sebelumnya agar semakin banyak masyarakat mengetahui sejarah tapak tilas Sunan Kalijaga di wilayah tersebut.
“Biasanya kegiatan hanya berlangsung pada malam hari. Tahun ini kami ingin mengangkatnya lebih besar agar masyarakat mengetahui bahwa di Penggaron Timur terdapat sejarah perjalanan Sunan Kalijaga yang pernah singgah dan beristirahat di kawasan ini,” ujarnya.
Berbagai kegiatan digelar sejak pagi hari, mulai dari bazar UMKM, lomba mewarnai tingkat PAUD dan TK, perlombaan bagi ibu-ibu PKK, hingga layanan pemeriksaan kesehatan, donor darah, perpustakaan keliling, dan pembayaran pajak daerah.
Menurut Dian, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Sejumlah pelaku UMKM bahkan mengaku dagangan mereka habis terjual selama kegiatan berlangsung.
“Alhamdulillah respons masyarakat sangat baik. Banyak produk UMKM yang ludes terjual dan kebutuhan pokok yang dijual dengan harga terjangkau juga langsung dibeli warga,” katanya.
Kirab budaya juga dimeriahkan dengan empat gunungan hasil bumi yang diarak bersama kebo. Setelah didoakan oleh para ulama, gunungan tersebut diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan dan ungkapan rasa syukur.
“Tradisi rebutan gunungan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Ini menjadi simbol harapan akan keberkahan dan kemakmuran,” ungkap Dian.
Selain itu, malam haul turut dimeriahkan dengan penampilan hadrah, peserta berkostum tradisional Jawa, serta iring-iringan pedati yang membawa tokoh masyarakat dan sejumlah pejabat mengelilingi kawasan Penggaron Timur.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Semarang bersama masyarakat berharap tradisi Haul dan Tapak Tilas Sunan Kalijaga dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus menjadi sarana memperkuat nilai religius, kebersamaan, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi identitas budaya yang semakin dikenal masyarakat luas sekaligus memberikan manfaat nyata bagi warga,” pungkas Dian. ***