Magister Hukum UNW Siapkan Lulusan Hadapi Era Digital

redaksi
13 Okt 2026 00:20
4 menit membaca

AKSARAKINI.COM — Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Semarang terus mengembangkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk melalui Program Studi Magister Hukum. Program ini diarahkan untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya memahami aspek hukum, tetapi juga mampu menghadapi tantangan akibat perkembangan teknologi era digital di berbagai sektor.

Ketua Program Studi Magister Hukum UNW, Dr. Arista Candra Irawati, S.H., M.H.Adv., mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah berbagai bidang kehidupan, mulai dari penegakan hukum, pelayanan kesehatan, industri, hingga ketenagakerjaan. Kondisi tersebut menuntut sumber daya manusia yang mampu memahami persoalan hukum sekaligus beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Menurut Arista, penguasaan aspek digital menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang kelak berkarier sebagai pemimpin, praktisi hukum, maupun peneliti.

“Jangan sampai perkembangan digital justru membuat kita kehilangan budaya sehat. Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan teknologi sekaligus menempatkannya secara tepat,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dalam penegakan hukum, pemahaman mengenai pembuktian digital semakin dibutuhkan. Sementara di bidang kesehatan, perkembangan teknologi turut mengubah pola pelayanan medis dan memunculkan kebutuhan pemahaman hukum yang relevan dengan praktik tersebut.

Perubahan serupa juga terjadi di sektor industri dan ketenagakerjaan. Karena itu, pendidikan hukum perlu membekali mahasiswa dengan pemahaman yang sesuai dengan perkembangan persoalan di masyarakat.

Arista menjelaskan, pengembangan pendidikan hukum di UNW mengacu pada identitas institusi yang memiliki akar kuat di bidang kesehatan.

Konsep budaya sehat, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan psikis, perilaku, dan kepatuhan terhadap hukum.

“Kami ingin menghasilkan lulusan yang sehat secara utuh, taat hukum, cinta kepada negara, serta mampu menjadi teladan di lingkungan kerja maupun masyarakat,” kata Arista.

Program Studi S1 Hukum UNW mulai menerima mahasiswa pada 2017. Pengembangan pendidikan berlanjut dengan dibukanya Program Studi Magister Hukum pada 2025.

Mahasiswa program magister tersebut berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, baik hukum maupun nonhukum, termasuk bidang kesehatan. Keragaman tersebut diharapkan memperluas perspektif mahasiswa dalam memahami persoalan hukum yang berkaitan dengan berbagai sektor kehidupan.

Pengembangan pendidikan hukum menjadi bagian dari upaya UNW memperluas kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat. Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui program UNW on the Street yang melibatkan mahasiswa pascasarjana dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Direktur Program Pascasarjana UNW, Prof. Dr. Sudiono Sastroatmojo, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk penerapan konsep perguruan tinggi berdampak.

Menurutnya, keberhasilan pengabdian tidak cukup diukur dari terlaksananya sebuah kegiatan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat serta keberlanjutan program.

“Ukuran perguruan tinggi berdampak itu harus terukur, dirasakan, dan berkelanjutan. Kegiatan ini harus bisa dinikmati masyarakat luas tanpa membatasi atau mendiskriminasi siapa pun,” kata Sudiono.

Ia menegaskan, UNW on the Street dirancang sebagai program berkelanjutan yang melibatkan mahasiswa dari berbagai angkatan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Saat ini, mahasiswa pascasarjana UNW berjumlah 631 orang yang tersebar di empat program studi, yakni Magister Pendidikan, Magister Hukum, Magister Keperawatan, dan Magister Kesehatan Masyarakat. Program pascasarjana tersebut mulai menerima mahasiswa pada Maret 2025.

“Ini baru tahun kedua, tetapi jumlah mahasiswa pascasarjana sudah mencapai 631 orang. Kami ingin potensi tersebut tidak hanya berkembang di ruang kuliah, tetapi juga hadir melalui pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Secara keseluruhan, UNW memiliki sekitar 7.897 mahasiswa. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan institusi yang bertransformasi menjadi universitas pada 2016.

Selain melalui pendidikan dan penelitian, UNW mengembangkan kegiatan pengabdian masyarakat dengan menggandeng berbagai instansi, termasuk dalam program penghijauan.

Sudiono menjelaskan, kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup mencakup sejumlah persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara, pengelolaan air dan sampah, hingga penanaman pohon.

UNW turut mengidentifikasi kawasan yang membutuhkan kegiatan penghijauan sebagai bagian dari upaya mendukung perbaikan lingkungan.

“Kami sudah diminta melihat daerah-daerah kritis untuk kegiatan penanaman pohon. Ini menjadi bagian dari upaya UNW membangun sinergi dengan berbagai lembaga sekaligus menjalankan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Ngudi Waluyo Ungaran, H. Asaat Pitoyo, S.Kp., M.Kes., mendorong pengembangan UNW agar semakin berkontribusi bagi masyarakat melalui pendidikan dan kegiatan sosial.

Ia menjelaskan, perjalanan UNW bermula pada 1994 melalui pendirian Akademi Keperawatan. Institusi tersebut kemudian berkembang dengan penambahan bidang kebidanan dan kesehatan masyarakat sebelum menjadi sekolah tinggi kesehatan pada 2000.

Transformasi menjadi universitas pada 2016 membuka ruang bagi pengembangan bidang keilmuan yang lebih luas, termasuk pendidikan hukum hingga jenjang magister.(**)