
AKSARAKINI.COM – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi yang membuka kemungkinan adanya percepatan politik sebelum Pemilu 2029 mendapat sorotan dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Tengah.
Anggota DPRD Jawa Tengah dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Muhammad Farchan, menilai pernyataan tersebut tidak tepat disampaikan di tengah situasi politik yang sedang berkembang.
Farchan terutama menyoroti posisi Budi Arie yang menyampaikan pernyataan tersebut saat berada di dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi memunculkan persepsi seolah-olah terjadi pertentangan antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto.
“Yang dilakukan Budi Arie ini tidak pas. Budi Arie harus melihat kondisi negara saat ini. Apalagi beliau berada bersama Pak Jokowi,” ujar Farchan.
Ia mengingatkan bahwa hubungan politik Jokowi dan Prabowo memiliki konteks penting dalam perjalanan pemerintahan saat ini.
Menurut Farchan, dukungan Jokowi terhadap Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024 juga menjadi bagian dari dinamika politik yang tidak bisa diabaikan.
“Jangan sampai Pak Jokowi diadu domba dengan Pak Prabowo. Ini yang berbahaya. Bagaimanapun kemenangan Pak Prabowo juga didukung oleh Pak Jokowi,” katanya.
Farchan mengaku kecewa karena pernyataan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu tersebut muncul ketika situasi sosial dan politik sedang ramai.
Menurut dia, seorang tokoh politik seharusnya lebih sensitif membaca kondisi masyarakat sebelum menyampaikan pernyataan yang berkaitan dengan masa depan kekuasaan.
“Saya kecewa karena pernyataan itu disampaikan di samping Pak Jokowi. Harusnya Pak Budi Arie melihat suasana kebatinan negara saat ini,” ucapnya.
Bagi Farchan, persoalannya bukan semata-mata soal boleh atau tidaknya membicarakan skenario politik.
Dia menilai waktu dan konteks penyampaian pernyataan juga perlu menjadi pertimbangan.
Terlebih, pada saat yang sama muncul berbagai aksi demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat di sejumlah daerah.
Situasi tersebut, menurut dia, membutuhkan komunikasi politik yang mampu meredam ketegangan, bukan justru membuka ruang spekulasi baru.
“Wong pas zaman ramai-ramainya ada demo, malah muncul komentar yang berkaitan dengan masalah seperti itu. Menurut saya tidak benar,” tegasnya.
Meski demikian, Farchan tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa pernyataan Budi Arie bertujuan memecah belah politik nasional. Ia memilih melihat dampaknya terhadap situasi politik dan persepsi publik.
“Saya tidak bisa menjustifikasi bahwa itu pasti memecah belah. Namun sekali lagi, Pak Budi Arie harus melihat suasana kebatinan politik negara ini,” ujarnya.
Farchan juga menilai pernyataan tersebut dapat membawa konsekuensi politik bagi pihak-pihak yang berada di sekitar Jokowi. Ia bahkan menyebut situasi itu bisa merugikan citra PSI yang selama ini menempatkan Jokowi sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan politik partai.
“Terus terang ini merugikan PSI. Ini juga bisa merugikan Pak Jokowi. Saya yakin Pak Jokowi tidak berpikiran seperti itu,” kata Farchan.
Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan Budi Arie Setiadi menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan terjadinya perubahan politik sebelum Pemilu 2029.
Dalam video tersebut, Budi Arie mengaku telah menyampaikan pandangannya kepada Jokowi. Ia mengatakan memiliki insting bahwa dinamika politik nasional bisa bergerak lebih cepat dari jadwal Pemilu yang selama ini dipahami publik.
“Tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong Pemilu 2029-Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” kata Budi Arie.
Pernyataan itu kemudian disambut seruan kesiapan dari peserta forum.
Budi Arie selanjutnya mengaitkan pandangannya dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang. Ia menyinggung keresahan masyarakat serta aksi demonstrasi yang muncul di sejumlah daerah.
Ia juga membawa contoh sejarah menjelang Reformasi 1998. Menurutnya, dinamika saat itu menunjukkan bahwa perkembangan politik dapat bergerak di luar skenario yang sebelumnya telah diperkirakan.
“Saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ini ada abnormal di masyarakat saat ini,” ujarnya.
Budi Arie menyebut kondisi tersebut sebagai kemungkinan “patahan sejarah”. Ia berpandangan bahwa perubahan situasi sosial dan ekonomi dapat memunculkan perkembangan politik yang tidak mengikuti pola konvensional.
“Potensi itu bukan tidak ada. Sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” katanya.
Ia kemudian meminta para relawan tidak hanya memikirkan satu skenario politik untuk menghadapi perkembangan ke depan.
“Insting saya ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya mau membuka wacana saja supaya berpikir jangan hanya sekadar berpikir 2029, harus ada pikiran alternatif manakala terjadi percepatan,” ujar Budi Arie. (**)